Monday, June 9, 2014

Penyakit Trauma pada Mata

 
A.    Pengertian Penyakit Trauma pada Mata
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan luka pada mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata, dan dapat juga sebagai kasus polisi. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata. Alat rumah tangga sering menimbulkan perlukaan atau trauma mata.
Trauma mata merupakan ruda paksa yang mengenai mata yang dapat disebabkan oleh benda tajam, tumpul,  thermis, kimia, listrik, tekanan ataupun radiasi yang menyebabkan berbagai macam gangguan pada mata.
Trauma mata adalah rusaknya jaringan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan atau rongga orbita karena adanya benda tajam atau tumpul yang mengenai mata dengan keras/cepat ataupun lambat.
Trauma pada mata dapat mengenai jaringan seperti kelopak mata, konjungtiva, kornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optik dan orbita secara terpisah atau menjadi gabungan trauma jaringan mata.


B.     Penyebab Penyakit Trauma pada Mata
Menurut sebabnya, trauma pada mata dibagi atas :
            Trauma Mekanik :
1.      Trauma tumpul atau kontusio yang dapat disebabkan oleh benda tumpul, benturan dan ledakan dimana terjadi pemadatan udara.
2.      Trauma tajam, yang mungkin perforatif atau non perforatif, disertai dengan adanya corpus aleneum atau tidak, corpus aleneum dapat intra okuler atau ekstra okuler.
Trauma Fisika :
3.      Trauma radiasi sinar inframerah
4.      Trauma radiasi sinar ultraviolet
5.      Trauma radiasi sinar X dan sinart terionisasi
Trauma Kimia :
6.      Trauma asam
7.      Trauma basa
C.    Gejala Penyakit Trauma pada Mata
Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis trauma serta berat dan ringannya trauma.
1.      Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat juga disertai tertinggalnya benda asing didalam mata. Benda asing yang tertinggal dapat bersifat tidak beracun dan beracun. Benda beracun contohnya logam besi, tembaga serta bahan dari tumbuhan misalnya potongan kayu. Bahan tidak beracun seperti pasir, kaca. Bahan tidak beracun dapat pula menimbulkan infeksi jika tercemar oleh kuman.
2.      Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan ringan yaitu penurunan penglihatan sementara sampai berat, yaitu perdarahan didalam bola mata, terlepasnya selaput jala (retina) atau sampai terputusnya saraf penglihatan sehingga menimbulkan kebutaan menetap.
3.      Trauma Kimia asam umumnya memperlihatkan gejala lebih berat daripada trauma kimia basa. Mata nampak merah, bengkak, keluar airmata berlebihan dan penderita nampak sangat kesakitan, tetapi trauma basa akan berakibat fatal karena dapat menghancurkan jaringan mata/ kornea secara perlahan-lahan.

D.    Trauma Tumpul
Trauma tumpul merupakan trauma yang paling serung terjadi, kerusakan yang yang ditimbulkannya sangat bervariasi dari ringan sampai yang berat.
Trauma tumpul dapat mengakibatkan beberapa kelainan / penyakit pada mata yaitu :
1.    Hematoma palpebra
Hematoma palpebra merupakan pembengkakan atau penibunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra.
Hematoma kelopak merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauna tumpul kelopak. Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentuk seperti kacamata hitam yang sedang dipakai, maka keadaan ini disebut hematoma kacamata. Henatoma kacamata terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii. Pada pecahnya arteri oftalmika maka darah masuk kedalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita.
Penanganan : Penanganan pertama dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan. Selanjutnya untuk memudahkan absorpsidarah dapat dilakukan kompres hangat pada kelopak.
2.    Hematoma subkonjungtiva
Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat dibawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Pecahnya pembuluh darah ini bisa akibat dari batu rejan, trauma tumpul atau pada keadaan pembuluh darah yang mudah pecah.
Penanganan : Pengobatan pertama pada hematoma subkonjungtiva adalh dengan kompres hangat. Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorbsi dengan sendirinya dalam 1 – 2 minggu tanpa diobati.
3.         Iridoplegia
Kelumpuhan otot sfingter pupil yang bisa diakibatkan karena trauma tumpul pada uvea sehingga menyebabkan pupi menjadi lebar atau midriasis.
Penanganan : iridoplegia post trauma sebaiknya diberikan istirahat untuk mencegah terjadinnya kelelahan sfingter dan pemberian roboransia.
4.      Edema kornea
Edema kornea dapat meberikan keluhan berupa penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat keruh dengan uji plasedo yang positif.
Penanganan : Pengobatan yang diberikan adalah larutan hiertonik seperti NaCL 5% atau larutan garam hipertonik 2 – 8%, glukosa 40% dan larutan albumin. Bila terjadi peninggian tekanan bola mata maka dapat diberikan asetozolamida. Dapat diberikan lensa kontak lembek untuk menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki tajam penglihatan.
5.         Erosi Kornea
Erosi kornea merupakan keadaan terlepasnya epitel kornea yang disebabkan trauma tumpul ataupun tajam pada kornea. Defek pada epitel kornea memudahkan kuman menyerang kornea sehingga mengakibatkan terjadinya infeksi sekunder. Insidensi erosi kornea pada dokter keluarga di Amerika Serikat mencapai 8% dari seluruh kunjungan pasien per tahun.
 Kejadian tersebut terutama dikaitkan karena adanya trauma mata pada tempat kerja. Erosi kornea sering kali diawali dengan trauma pada mata. Segera sesudah trauma atau masuknya benda asing, penderita akan merasa sakit sekali, akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak, mata menjadi berair, fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media yang keruh.
Penanganan : Anestesi topikal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit yang sangat. Anestesi topikal diberikan dengan hati-hati karena dapat menambah kerusakan epitel.
Epitel yan terkelupas atau terlipat sebaiknya dilepas atau dikupas. Untuk mencegah terjadinya infeksi dapat diberikan antibiotika spektrum luas seperti neosporin, kloramfenikol dan sufasetamid tetes. Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka dapat diberikan sikloplegik aksi-pendek seperti tropikamida. Untuk mengurangi rangsangan cahaya dan membuat rasa nyaman pada pasien, maka bisa diberikan bebat tekan pada pasien minimal 24 jam.
6.         Iridosiklitis
Yaitu radang pada uvea anterior yang terjadi akibat reaksi jaringan uvea pada post trauma. Pada mata akan terlihat mata merah, akbat danya darah yang berada di dalam bilik mata depan maka akan terdapat suar dan pupil mata yang mengecil yang mengakibatkan visus menurun.
Penanganan : Pada uveitis anterior diberikan tetes midriatik dan steroid topikal, bila terlihat tanda radang berat maka dapat diberikan steroid sistemik. penanganan dengan cara bedah mata.

E.     Trauma Tajam
Trauma tajam pada mata dapat diakibatkan oleh benda tajam atau benda asing lainya yang mengakibatkan terjadinya robekan jaringan-jarinagan mata secara berurutan, misalnya mulai dari palpebra,kornea, uvea sampai mengenai lensa..
Bila trauma yang disebabkan benda tajam atau benda asing lainya masuk kedalam bola mata maka akan mengakibatkan tanda-tanda bola mata tembus seperti :
ü  Tajam penglihatan yang menurun
ü  Tekanan bola mata yang rendah
ü  Bilik mata dangkal
ü  Bentuk dan letak pupil yang berubah
ü  Terlihat adanya ruptur pada kornea atau sklera
ü  Terdapat jaringan yang prolaps, seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca atau retina
ü  Konjungtivis kemotis
Bila terlihat salah satu atau beberapa tanda diatas maka dicurigai adanya trauma tembus bola mata maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotika topikal dan mata aditutup tetapi jangan terlalu kencang dan segera dikirim ke dokter mata untuk dilakukan pembedahan dan penanganan lebih lanjut. Pembuatan foto bisa dilakukan untuk melihat adanya benda asing dalam bola mata. Benda asing yang bersifat magnetik dapat dikeluarkan dengan magnet raksasa, dan benda asing yang tidak bersifat magnetik dapat dikeluarkan dengan vitrektomi. Adanya benda asing intraokuler dapat mengakibatkan endoftalmitis, panoftalmitis, ablasi retina, perdarahn intraokuler dan ptisis bulbi.

F.     Trauma Inframerah
Sinar inframerah dapat mengakibatkan kerusakan pada lensa, iris dan kapsul disekitar lensa. Hal ini terjadi karena sinar yang terkumpul dan ditanglap oleh mata selama satu menit tanpa henti akan menagkibatkan pupil melebar dan terjadi kenaikan suhu lensa sebanyak 9 derajat selsius, sehingga mengakibatkan katarak dan eksfoliasi pada kapsul lensa. Sinar inframerah yang sering didapatkan adalah dari sinar matahari dan dari tempat pekerjaan pemanggangan. Seseorang yang sering terpejan dengan sinar ini dapat terkena keratitis superfisial, katarak kortikal anterior posterior dan koagulasi pada koroid. Biasanya terjadi penurunan tajam penglihatan, penglihatan kabur dan mata terasa panas.
Penanganan : Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang telah terjadi, kecuali mencegah sering terpapar oleh sinar infra merah ini. Pemberian steroid sistemik dimaksudkan untuk mencegah terbentuknya jaringan parut pada makula dan untuk mengurangi gejala radang yang timbul.

G.    Trauma Sinar Ultra Violet
Sinar ultra violet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat, mempunyai panjang gelombang antara 350 – 295 nM. Sinar ultra violet banyak dipakai pada saat bekerja las dan menatap sinar matahari. Sinar ultra violet akan segera merusak sel epitel kornea, kerusakan iniakan segera baik kembali setelah beberapa waktu dan tidak memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap. Biasanya penderita akan memberikan keluhan 4 – 6 jam post trauma. Mata terasa sakit seperti ada pasir, fotofobia, blefarospasme dan konjungtiva kemotik. Kornea akan menunjukan adanya infiltrat pada permukaanyayang kadang-kadang disetai dengan kornea yang keruh. Pupil akan terlihat miosis.
Penanganan :  Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika lokal, analgetika dan mata ditutup selama 2 – 3 hari. Biasanya sembuh setelah 48 jam.

H.    Trauma Sinar Ionisasi dan Sinar X
Sinar Ionisasi dibedakan dalam bentuk:
ü  Sinar alfa yang dapat diabaikan
ü   Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan
ü  Sinar gamma
ü  Sinar X
Sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan kerusakan pada kornea yang dapat bersifat permanen. Katarak akibat pemecahan sel epitel yang tidak normal dan rusaknya retina dengan gambarandilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneuris mata dan eksudat. Atrofi sel goblet pada konjungtiva juga dapat terjadi dan mengganggu fungsi air mata.
Penanganan : Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topikal, steroid sistemik dan sikloplegik. Bila terjadi simblefaron pada konjungtiva dilakukan tindakan pembedahan.

I.       Trauma Asam
Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi pengendapan ataupun penggumpalan bahan protein permukaan. Biasanya akan terjadi kerusakan pada bagian superfisisal saja, tetapi bahan asam kuat dapat bereaksi yang mengakibatkan trauma menjadi lebih dalam. Mata terasa pedih, seperti kering, seperti ada pasir dan ketajaman mata biasanya menurun.
Penanganan : Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena secara perlahan-lahan dan selama mungkin dengan air bersih atau garam fisiologik minimal selama 15 menit. Antibiotika topikal untuk mencegah infeksi sikloplegik bila terjadi ulkus kornea atau kerusakan lebih dalam. EDTA bisa diberikan satu minggu post trauma. Baik bila konsentrasi asam tidak terlalu tinggi dan hanya terjadi kerusakan superfisis saja.

J.      Trauma Basa
Trauma basa pada mata akan memberikan reaksi yang gawat pada mata. Alkali dengan mudah dan cepat dapat menembus jaringan kornea, bilik mata depan dan bagian retina. Hal ini terjadi akibat terjadinya penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses persabunan disertai dangan dehidrasi.
Menurut klasifikasi Thoft maka trauma basa dapat dibedakan menjadi :
ü  Derajat 1: heperimi konjungtiva diikuti dengan keratitis pungtata.
ü  Derajat 2: hiperemi konjungtiva dengan disertai hilangnya epitel kornea.
ü  Derajat 3: hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea.
ü  Derajat 4: Konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50 %.
Menurut klasifikasi Hughes maka trauma mata diklasifikasikan menjadi:
ü  Ringan:
-          Terdapat erosi epitel dan kekeruhan ringan kornea
-          Tidak terdapat iskemi dan nekrosis kornea atau konjungtiva
-          Prognosis baik
ü  Sedang
-           Terdapat kekeruhan kornea sehingga sukar melihat iris dan pupil secara detail
-          Terdapat nekrosis dan iskemi ringan konjungtiva dan kornea
-          Prognosis sedang
ü  Berat
-          terdapat kekeruhan kornea, sehingga pupil tidak dapat dilihat
-          terdapat iskemia konjungtiva dan sklera, sehingga tampak pucat
-          prognosis buruk
Panderita trauma asam akan merasakan mata terasa pedih, seperti kering, seperti ada pasir dan ketajaman mata biasanya menurun. Pengujian dengan kertas lakmus saat pertama kali datang adalah menunjukan suasana alkalis.
Penanganan : Tindakan yang dilakukan adalah dengan irigasi dengan garam fisiologik sekitar 60 menit segera setelah trauma. Penderita diberikan sikloplegia, antibiotika, EDTA diberikan segera setelah trauma 1 tetes tiap 5 menit selama 2 jam dengan maksud untuk mengikat sisa basa dan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ketujuh post trauma. Diberikan antiiatik lokal untuk mencegah infeksi Analgetik dan anestesik topikal dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri.

K.    Pencegahan Terjadinya Trauma Mata
Trauma mata dapat dicegah dengan menghindarkan terjadinya trauma seperti:
ü  Diperlukan perlindungan pekerja untuk menghindarkan terjadnya trauma tajam akabiat alat pekerjaannya
ü  Setiap pekerja yang bekerja di tempat bahan kimia sebaiknya mengerti bahan kimai apa yang dipakainya, asam atau basa.
ü  Pada pekerja las sebaiknya melindungi matanya dari sinar dan percikan las.
ü  Awasi anak yang sedang bermain yang mungkin berbahaya untuk matanya.
Pada olahragawan seperti tinju ataupun bela diri lainya, harus melindungi bagian matanya dan daerah sekitarnya dengan alat pelindung