Monday, June 9, 2014

Metode Pembelajaran untuk SLB E


Metode
Deskripsi
Langkah
Alasan
Kelebihan
keterbatasan

Role Playing
Role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imaginasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imaginasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankan sebagai tokoh hidup atau benda mati. Metode ini melibatkan siswa dan membuat siswa senang belajar serta mempunyai nilai tambah yaitu dapat menjamin partisipasi seluruh siswa dan memberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerja sama hingga berhasil dan permainan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa (Prasetyo, 2001:72)
·         Pemilihan masalah, guru mengemukakan masalah yang diangkat dari kehidupan peserta didik agar mereka dapat merasakan masalah tersebut dan terdorong untuk mencari penyelesaiannya.
·         Pemilihan peran, memilih peran yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, mendeskripsikan karakter dan apa yang harus dikerjakan oleh para pemain.
·         Menyusun tahapan bermain peran seperti membuat dialog tetapi siswa juga dapat menambahkan dialog sendiri.
·         Pemeranan, tahap ini semua peserta didik mulai beraksi sesuai dengan peran masing-masing yang terdapat pada scenario bermain peran.
·         Diskusi dan evaluasi, mendiskusikan masalah-masalah serta pertanyaan yang muncul bersama guru sehingga siswa lebih mudah memahami dan mengingat materi yang diperankan tersebut.
Di SLB-E siswa cenderung memiliki aktifitas yang berlebih sehingga dalam pembelajaran anak membutuhkan metode yang tepat untuk menyalurkan tenaga yang berlebih. Dengan metode role playing juga membantu anak untuk memiliki pengalaman dari hasil belajar.
Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh
Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
·         Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan
·         Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak

·         Terkadang siswa lebih fokus pada permainan dari pada materi dalam permainan
·         Waktu yang dibutuhkan cukup lama
2.       
Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara atau metode mengajar yang menuntut siswa agar dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan guru untuk dipelajari dan dipertanggungjawabkan.
·      Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama tujuan penugasan dan cara pengerjaannya.
·      Tugas yang diberikan harus dipahami peserta didik, kapan mengerjakannya, cara mengerjakannya, berapa lama tugas tersebut harus dikerjakan, secara individu atau kelompok, dan lain-lain.
·      Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok perlu diupayakan agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut, terutama jika tugas diselesaikan diluar kelas.
·      Diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh peserta didik.
·      Guru memberikan penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Penilaian yang diberikan tidak hanya menitik beratkan pada produk tetapi juga proses penyelesaian tugas tersebut. Penilaian diberikan secara langsung setelah tugas diselesaikan oleh peserta didik.
Di SLB-E yang paling diutamakan adalah pembelajaran untuk mengendalikan anak. Hal ini dikarenakan permasalahan utama anak tunalaras adalam dalam pengendalian emosinya. Emosi anak tunalaras tidak stabil sehingga mereka sulit untuk tenang dan diarahkan. Oleh karena itu didalam SLB-E mereka dilatih untuk lebih tenang dan lebih sabar dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.

·      Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama; dan
·      Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab, dan berdiri sendiri

·      Seringkali anak didik melakukan penipuan di mana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri
·      Terkadang tugas itu dikerjakan orang lain tanpa pengawasan; dan
·      Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual

3.       
Latihan / Drill
Suatu teknik yang diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar pesertadidik memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang belum dipelajari. Latihan yang praktis, mudah dilakukan serta teratur melaksanakanya membina anak dalam meningkatkan penguasaan ketrampilan tersebut, bahkan mungkin peserta didik dapat memiliki ketangkasan itu dengan sempurna. Hal ini menunjang peserta didik dapat berprestasi dalam bidang tertentu misalnya: juara lari, sepak bola atau juara bersepeda. Teknik ini biasanya digunakan dalam bidang olah raga.
·         Digunakan dalam pembelajaran atau tindakan yang dilakukan secara otomatis, tanpa mengunakan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam. Dapat digunakna dalam cara cepat seperti meng Hafal, menghitung lari dsb.
·      Memilih latihan yang mempunyai arti luas atau dapat menenamkan pengertian pemahaman akan makna dan tujuan latihan sebelum mereka melakukan. Latihan itu juga mampu menyadarkan peserta didik kegunaan latihan untuk kehidupanya di masa sekarang ataupun masa yang akan datang.
·      Instruktur harus lebih menekankan pada diagnosa, karena latihan permulaan belum bisa membuat peserta didik mampu melakukan ketrampilan yang sesuai dengan apa yang diharapokan pelatih dengan sempurna.
·      Guru/pelatih meneliti kesulitan atau hambatang yang dialami peserta didik, sehingga dapat memilih/menentukan latihan mana yang perlu diperbaiki.
·      Mengutamakan ketepatan agar peserta didik melakukan latihan secara tepat, kemudian diperhatikan kecepatan dan ketepatan.
·      Guru menghitung waktu yang diperlukan untuk latihan agar anak tidak merasa bosan dan memberikan variasai latihan agar menarik bila perlu mengubah situasi dan kondisi sehingga menumbuhkan semangat pada diri anak.
·      Guru dan siswa harus mengutamakan proses pokok atau inti sehingga tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu dalam latihan.
·      Guru perlu memperhatikan adanya perbedaan anatara peserta didik sehingga kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak dapat disalurkan/dikembangkan, maka dalam latihan guru perlu memperhatikan latihan perorangan.
Di SLB-E dibutuhkan metode pembelajaran drill karena metode ini betupa kegiatan latihan dengan pengulangan supaya anak tidak mudah lupa terhadap materi yang sudah diajarkan.
·       Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
·       Siswa siap menggunakan keterampilannya karena sudah dibiasakan. Proses pembelajaran akan lebih menarik.
·       Siswa dapat membandingkan antara teori dan kenyataan.
·       Pesan-pesan yang disampaikan/diperagakan akan lebih diingat dan bertahan lama
·      Sering terjadi cara-cara / gerak yang tidak bisa dirubah, karena adalah cara atau teknik yang telah dibakukan. Maka hal tersebuta akan menghambat bakat peserta didik.
·      Mereka tidak boleh menggunakan cara lain menurut pikiranya sendiri
·      Dalam latihan individual, perlu mangembangkan bakat anak serta mendorong sejauh tidak menyimpang dari penguasaan ketrampilan yang akan dicapai.

Metode pembelajaran Role Playing, Pemberian Tugas, dan Latihan / Drill pada metode ini lebih menekankan pada teori belajar behavioristik karena dengan metode pembelajaran Role Playing dan Pemberian Tugas diharapkan aktivitas tuna laras bisa diarahkan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.