Monday, June 9, 2014

Makalah Telaah Kritis Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

MAKALAH TELAAH KRITIS
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pediatri Sosial
Dosen Pengampu : Drs. A. Salim Choiri, M.Si
Disusun oleh:
Ratih Adityaningrum
K5111049
B
Pendidikan Luar Biasa
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2014
 
DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................................
Daftar Isi...........................................................................................................................
Bab I : Garis Besar Artikel................................................................................................
Bab II : Telaah Kritis : ......................................................................................................
a.       Menurut Pendapat Ahli..........................................................................................
b.      Menurut Pendapat Pribadi.....................................................................................
c.       Menurut Fakta di Lapangan...................................................................................
Bab III : Penutup...............................................................................................................
a.       Kesimpulan...........................................................................................................
b.      Saran...................................................................................................................
Daftar Pustaka ...................................................................................................................
Lampiran...........................................................................................................................
i
ii
1
3
3
3
4
5
6
7




BAB I
GARIS BESAR ARTIKEL
“Uki Bocah 9 Tahun Alami Gizi Buruk, Bobot Cuma 6 Kg”

Ahmad Lutfi Sauki adalah anak yang berumur 9 tahun dengan berat badan 6  kg. Dengan berat 6 kg Ahmad Lutfi Sauki yang sering disapa uki dapat dipastikan ahmad mengalami gizi buruk. Gizi buruk adalah  keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari – hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi.
Lutfi Ahmad adalah putra bungsu pasangan almarhum Aji Nipin, 50 tahun, dan Rosmiati, 39. Dalam keluarganya bukan uki saja yang mengalami gizi buruk, namun ada sang kakak mariani yang sudah meninggal pada usia 5 tahun.
Sejak usia empat bulan kondisi uki memang sudah memilukan. Pada saat usia empat bulan, ibunda uki telah memeriksakan uki ke dokter, dan dokter mengira uki mengidap penyakit hidrosefalus karena ukuran kepala yang lebih besar daripada ukuran tubuhnya. Namun setelah diadakan diagnosa ulang, uki ternyata mengalami gizi buruk dan kondisi tulang yang buruk, salah gerak sedikit tulang uki bisa patah.
Ibunda uki yang bekerja sebagai tukang cuci bingung kenapa kedua anaknya bisa mengidap gizi buruk, padahal menurut beliau kedua anaknya sudah diberikan makanan sehari-hari yang cukup walaupun dari bantuan tetangga. Bisa dibilang bahwa uki  mendapatkan makanan sehari-hari yang cukup. Uki mengalami gizi buruk bukan karena konsumsi makanan yang cukup namun karena kandungan nutrisi dalam setiap makanan yang dikonsumsi memang belum cukup untuk uki.
Gizi buruk sangat menghambat pertumbuhan dan perkembangan uki. Saat ini usia uki sudah 9 tahun, uki sudah bersekolah walaupu untuk bersekolah uki harus merangkak. Beberapa bulan uki sudah tidak bersekolah lagi karena kedua lengannya patah karena tidak sengaja terinjak oleh saudaranya. Uki hanya berbaring saja, dengan bobot 6 kg uki sangat sulit untuk beraktifitas. Belum ada jalan keluar dalam masalah uki, perlu diadakan tindak lanjut untuk masalah uki karena bukan saja masalah gizi buruk, namun uki juga mengalami masalah pada tulangnya yang mudah patah.
BAB II
TELAAH KRITIS

a.     Menurut pendapat Ahli
Menurut dr. Subagyo, Sp.P., gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar rata-rata. Status gizi buruk dibagimenjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein ( kwashiorkor ), karena kekurangan karbohidrat atau kalori ( marasmus), dan kekurangan kedua-duanya.
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan berturut-turut tidak naik) dan tidak disertai tanda-tanda bahaya.
Gizi buruk dibagi menjadi 3 macam tipe yaitu :
·      Tipe Kwashiorkor, dengan tanda-tanda dan gejala adalah sebagai berikut: Tampak sangat kurus dan atau endema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh,  Perubahan status mental, Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung mudah dicabut tanpa rasa sakit atau rontok, Wajah mebulat dan sembab,  Pandangan mata sayu, Pembesaran hati, Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas.
·      Tipe Marasmus,dengan tanda-tanda dan gejala sebagai berikut: Tampak sangat kurus, Wajah seperti orang tua, Cengeng rewel, Kulit keriput,  Perut cekung.
·      Tipe Marasmik-Kwashiorkor merupakan gabungan beberapa gejala klinik Kwashiorkor-Marasmus penyakit-penyakitnya adalah ISPA, Diare persisten,  Cacingan,   Malaria,  HIV/AIDS.
UNICEF dalam Soekirman (2002) mengenai berbagai faktor penyebab timbulnya gizi buruk pada balita, yaitu
·      Penyebab Langsung : Makanan tidak seimbang untuk anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak.
·      Penyebab Tidak Langsung : (1) Ketahanan pangan dalam keluarga adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan makan untuk seluruh anggota keluarga baik dalam jumlah maupun dalam komposisi zat gizinya. (2) Pola pengasuhan anak, berupa perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberikan makan, merawat, kebersihan memberi kasih sayang dan sebagainya. Kesemuanya berhubungan dengan kesehatan  fisik dan mental ibu, status gizi, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, adat kebiasaan dan sebagainya dari si ibu dan pengasuh lainnya. (3) faktor pelayanan kesehatan yang baik, seperti; imunisasi, penimbangan anak, pendidikan dan kesehatan gizi, serta pelayanan posyandu, puskesmas, praktik bidan, dokter dan rumah sakit.
Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) pada tahun 1999, telah merumuskan faktor yang menyebabkan gizi kurang seperti pada bagan di bawah ini.
Menurut ahli Gejala umum  gizi buruk pada anak terutama balita yaitu Kelelahan dan kekurangan energi, Pusing, Sistem kekekalan tubuh yang rendah (yang mengakibatkan tubuh kesulitan untuk melawan infeksi), Kulit yang kering dan bersisik, Gusi bengkak dan berdarah,  Gigi yang membusuk, Sulit untuk berkonsentarsi dan mempunyai reaksi yang lambat, Berat badan kurang, Pertumbuhan yang lambat, Kelemahan pada otot, Perut kembung, Tulang yang mudah patah, Terdapat masalah pada fungsi organ tubuh.
Dampak gizi buruk pada anak terutama balita:
·         Pertumbuhan badan dan perkembangan mental anak sampai dewasa terhambat.
·         Mudah terkena penyakit ispa, diare, dan yang lebih sering terjadi.
·         Bisa menyebabkan kematian bila tidak dirawat secara intensif.
Gizi buruk dapat berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan anak, juga kecerdasan anak. Pada tingkat yang lebih parah, jika dikombinasikan dengan perawatan yang buruk, sanitasi yang buruk, dan munculnya penyakit lain, gizi buruk dapat menyebabkan kematian. Bila gizi buruk dibiarkan saja, maka akan menjadi ancaman besar bagi bangsa indonesia kalau hal ini tidak segera di tangani,maka indonesia akan mengalami Lost Generation dalam 20 tahun ke depan. Dan jikalau suatu bangsa kurang gizi, maka bangsa tersebut akan menjadi bangsa kuli dan tidak kompetitif. Untuk mengatasi dampak gizi buruk agar tidak menghambat proses tumbuh kembang anak yaitu
·           Lingkungan harus disehatkan misalnya dengan mengupayakan pekarangan rumah menjadi taman gizi.
·           Perilaku harus diubah sehingga menjadi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
·           Pemberian makanan secara teratur,berharap, porsi kecil,sering dan mudah diserap,makan aneka ragam makanan,beri ASI,makan makanan yang mengandung minyak,santan dan lemak,berikan buah-buahan.

b.    Menurut Pendapat Pribadi
Menurut saya, setiap pertumbuhan dan perkembangan anak harus diperhatikan,  Mulai konsumsi makanan, perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit, lingkungan, dan sebagainya. Hal tadi sangat bergantung pada orangtua dalam memenuhi setiap kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan normal dan baik.
Apalagi sekarang ini sedang marak terjadi gizi buruk baik di desa maupun kota, gizi buruk bukan lagi masalah didesa saja, namun di kota seperti depok, jawa barat tingkat penderita gizi buruk cukup tinggi. Salah satunya adalah Uki diusia 9 tahun bobot tubuhnya hanya sekitar 6 kg, sangatlah jauh dari bobot anak normal seusia. Gizi buruk sangat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Gizi buruk memiliki gejala yang berbeda-beda, sesuai dengan tipe yang diderita anak. Tipe gizi buruk yang dialami uki (subyek dalam artikel) adalah kwashiorkor ditambah dengan gejala tulang yang rapuh atau mudah patah. Untuk mengatasi atau mengurangi dampak gizi buruk ini dibutuhkan asupan makanan dengan kandungan gizi yang sesuai dan dibutuhkan oleh anak, selain itu dalam kasus tulang yang rapuh perlu suplemen atau obat yang mampu memperkuat tulang sehingga tulang menjadi lebih kuat dan mampu tumbuh sesuai tuntutan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Masyarakat juga harus ikut aktif dalam memberantas gizi buruk diindonesia, sosialisasi tentang makanan sehat yang dibutuhkan anak ke daerah-daerah atau lingkungan kumuh yang memiliki kemungkinan terjadinya gizi buruk, karena beberapa orangtua di lingkungan tertentu terkesan tidak peduli pada kandungan gizi makanan yang diberikan pada anak, “yang penting makan” inilah yang sering terjadi dimasyarakat. Selain sosialisasi, pemerintah juga harus ikut turun tangan menghadapi masalah gizi buruk ini, misalnya dengan jumat gizi (memberikan makanan sehat dengan kandungan gizi yang cukup untuk anak) di daerah yang kira-kira kurang mendapat perhatian tentang asupan makanan.

c.      Menurut Fakta di Lapangan
Sekarang ini banyak terjadi kasus gizi buruk pada anak, ternyata masalah gizi buruk tidak hanya terjadi di jawa barat saja. Kasus gizi buruk juga terjadi di NTT, Papua, makasar bahkan Tasikmalaya. Menurut Tjuk Eko Hari Basuki, 27 % bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesia mengalami gizi buruk. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan. Adapun upaya untuk menanggulangi masalah gizi buruk sudah sering dilakukan oleh pemerintah yaitu melalui dinas kesehatan yang berkoordinasi dengan puskesmas atau rumah sakit setempat.
Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Indonesia, pada tahun 2004, kasus gizi kurang dan gizi buruk sebanyak 5,1 juta. Kemudian pada tahun 2005 turun menjadi 4,42 juta. Tahun 2006 turun menjadi 4,2 juta (944.246 di antaranya kasus gizi buruk) dan tahun 2007 turun lagi menjadi 4,1 juta (755.397 di antaranya kasus gizi buruk). Berdasarkan data Departemen Kesehatan Indonesia pada tahun 2009, gizi buruk pada balita tersebar hampir merata di seluruh Indonesia. Secara nasional, prefalensi gizi kurang tahun 2010 adalah 17,9 % terdiri dari 4,9 % gizi buruk, dan 13,0% gizi kurang. Diharapkan ditahun 2015 prefalensi agak menurun sekitar 2,4 % menjadi 15,5 %.
Ditahun 2014 ini, masalah gizi buruk belum bisa terselesaikan. Gizi buruk terjadi karena 3 faktor yaitu kemiskinan, pendidikan rendah dan kesempatan kerja rendah, kalau dibiarkan terus maka generasi muda indonesia akan mengalami hambatan perkembangan dan pertumbuhan, lebih parahnya banyak anak / balita meninggal akibat gizi buruk. Pemerintah sebenarnya sudah mengeluarkan solusi untuk masalah gizi buruk seperti revitalisasi posyandu untuk mendukung pemantauan pertumbuhan, melibatkan peran aktif tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan kelompok potensial lainnya, meningkatkan cakupan dan kualitas melalui peningkatan keterampilan tatalaksana gizi buruk, menyediakan sarana pendukung (sarana dan prasarana), menyediakan dan melakukan KIE, meningkatkan kewaspadaan dini KLB gizi buruk. Namun solusi / strategi tersebut belum mampu menyelesaikan masalah gizi buruk yang terjadi dimasyarakat, masyarakat belum memiliki kesadaran untuk ikut mengatasi masalah gizi buruk di Indonesia.















BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
·         Pertumbuhan dan perkembangan anak adalah proses yang tidak dapat dipisahkan.  Untuk pertumbuhan dan perkembangan dibutuhkan asupan gizi yang baik, perawatan, bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit, lingkungan, dan sebagainya.
·         Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan berturut-turut tidak naik) dan tidak disertai tanda-tanda bahaya.
·         Gizi buruk dibagi menjadi 3 macam tipe yaitu Kwashiorkor, marasmus, dan  Kwashiorkor-marasmus.
·         Gizi buruk ditandai dengan gejala Tampak sangat kurus dan atau endema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh,  Perubahan status mental, Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung mudah dicabut tanpa rasa sakit atau rontok, Wajah mebulat dan sembab,  Pandangan mata sayu, Pembesaran hati, Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas, tulang rapuh (mudah patah).
·         Secara nasional, prefalensi gizi kurang tahun 2010 adalah 17,9 % terdiri dari 4,9 % gizi buruk, dan 13,0% gizi kurang. Diharapkan ditahun 2015 prefalensi agak menurun sekitar 2,4 % menjadi 15,5 %.
·         Orangtua harus memperhatikan setiap tumbuh kembang anak, dengan mencari tahu tentang gizi untuk anak, memberikan asi ekslusif, memberikan kasih sayang, dll agar anak tumbuh dan berkembang dengan normal dan baik.
B.   Saran
·         Masyarakat harus ikut berpartisipasi untuk mengatasi masalah gizi buruk.
·         Orangtua harus memperhatikan makanan yang diberikan kepada anak, dan memberikan makanan dengan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan anak sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan dengan baik dan sehat.
DAFTAR PUSTAKA

·         http://metro.news.viva.co.id/news/read/444471-butuh-bantuan--gizi-buruk-bocah-9-tahun-cuma-6-kg diakses pada tanggal 27 maret 2014
·         http://ykatrin.blogspot.com/2014/03/kenali-tanda-dan-gejala-gizi-buruk.html diakses pada tanggal 27 maret 2014




















LAMPIRAN
Uki Bocah 9 Tahun Alami Gizi Buruk, Bobot Cuma 6 Kg
Ahmad Lufi Sauki, penderita gizi buruk dari Depok, Jawa Barat. (VIVAnews/Zahrul Darmawan)





VIVAnews - Cerita dari Depok ini membuat kita miris dan mudah-mudahan tergugah. Ahmad Lutfi Sauki, begitu nama bocah berusia 9 tahun itu, merangkum semua kesulitan hidup dalam tubuhnya. Kurus, ringkih, dengan tulang yang entah kenapa begitu mudah menyerah. Dua lengannya hingga kini masih terkulai. Patah. 
Mereka yang merawatnya menyebutkan bahwa penyakit memilukan itu datang karena gizi buruk dan tentu saja karena kemiskinan yang merubung keluarganya. Dan Ahmad Lufi Sauki tinggal tak jauh-jauh dari kita, dari kemakmuran kota Jakarta yang megah mewangi ini. Dia adalah warga Kampung Prigi, RT 04 RW 06, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok.
Ahmad adalah putra bungsu pasangan almarhum Aji Nipin, 50 tahun, dan Rosmiati, 39. Dia bukanlah satu-satunya anak yang ditimpa gizi buruk dalam keluarga ini. Sang kakak, Mariani, juga ditimpa rupa-rupa penyakit karena gizi buruk. Mariani sudah menyerah duluan. Meninggal dunia ketika usianya masih sangat belia, 5 tahun.
Ditemui VIVAnews.com di kediamannya yang jauh dari kesan layak huni, Rosmiati menjelaskan bahwa semenjak usia empat bulan kondisi sang anak memang sudah bikin pedih. Saat itu, dokter mengira sang bocah mengidap penyakit hidrosefalus.
“Namun setelah didiagnosa ulang ternyata mengalami gizi buruk. Tulang-tulangnya juga sangat ringkih, salah sedikit langsung patah,” kata wanita yang sehari-hari berprofesi sebagi tukang cuci ini kepada VIVAnews, Senin 16 September.
"Saya bingung kenapa bisa terjadi gizi buruk, padahal sehari-hari saya sediakan makan yang cukup walaupun itu dari bantuan tetangga."
Keluarga Rosmiati ini tampaknya memang memerlukan bantuan. Memerlukan bantuan warga, bantuan pemerintah dan bantuan para wakil rakyat di Depok. Kediaman Rosmiati hanya berjarak 1 kilometer dari rumah beberapa wakil rakyat di kota itu.
Rosmiati sendiri bukannya tak pernah usaha. Dia sudah bekerja sekuat tenaga demi mengepulkan dapurnya. Tapi membiayai anak sakit seperti si Ahmad itu, tentu saja memerlukan uang banyak. Dan upah sebagai tukang cuci itu, rasanya kesulitan mengongkosi rumah sakit sang anak.
“Saya sudah beberapa kali juga ke kantor kelurahan tapi enggak ada reaksi apa-apa. Saya tidak mengharap apa-apa, hanya berharap mereka memperhatikan kondisi anak saya,” keluh Rosmiati.
  Ingin jadi kiai
Ahmad Lufi Sauki yang biasa disapa Uki ini mengaku ingin sekali jadi penceramah agama. Keinginan dan niatnya yang tulus itu dibuktikannya dengan menempuh pendidik di Madrasah Ibtidaiyah Choirul Huda, yang jaraknya tak jauh dari rumah. Namun malang, lantaran kedua lengannya patah, Uki pun terpaksa beberapa bulan ini tak sekolah.
“Dulu bisa, kalau di sekolah ya ngesot di lantai. Tapi sekarang sudah enggak bisa kan tangan Uki semua sudah patah," kata bocah yang beratnya cuma 6 kg ini,
"Uki mau seperti Ustad Arifin Ilham, Ustad Yusuf Mansyur, dan Ustad Cepot. Uki ingin  jadi kyai, biar bisa bantu sesama.”
Keinginan Uki menjadi seorang pendakwah juga dibenarkan Sigit, abang ipar Uki. Sigit mengatakan, Uki sempat tampil beberapa kali di dalam acara yang digelar di kampungnya. Gaya ceramah Uki pun mirip dengan beberapa ustad kondang.
“Anaknya gesit berani tampil. Tapi belakangan ini kondisinya makin buruk sejak tangannnya patah karena terinjak kakaknya.”
© VIVA.co.id / http://metro.news.viva.co.id/news/read/444471-butuh-bantuan--gizi-buruk-bocah-9-tahun-cuma-6-kg