Thursday, June 19, 2014

Betapa Malangnya nasib anak hiperaktif di indonesia

MAKALAH TELAAH KRITIS
Kasus Attention Deficit Hyperactivity Disorder
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktifitas
Dosen Pengampu : Sugini, S.Pd., M.Pd

Disusun oleh:
Ratih Adityaningrum
K5111049
B
Pendidikan Luar Biasa
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2014

DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................................
Daftar Isi...........................................................................................................................
Bab I : Garis Besar Artikel................................................................................................
Bab II : Telaah Kritis : ......................................................................................................
a.       Menurut Pendapat Ahli..........................................................................................
b.      Menurut Pendapat Pribadi.....................................................................................
c.       Menurut Fakta di Lapangan...................................................................................
Bab III : Penutup...............................................................................................................
a.       Kesimpulan...........................................................................................................
b.      Saran...................................................................................................................
Daftar Pustaka ...................................................................................................................
Lampiran...........................................................................................................................
i
ii
1
2
2
6
7
9
9
9
10
11


BAB I
GARIS BESAR ARTIKEL
“Menderita Hiperaktif, Bocah Dipasung”
Adi Saputro adalah anak yang berumur 7 tahun dengan dugaan hiperaktif. Adi Saputro yang sering disapa adi belum dapat dipastikan  mengalami hiperaktif. Hiperaktif berhubungan dengan kelemahan pada kemampuan memperhatikan, tidak dapat mengendalikan diri, dan tidak mampu berperilaku sesuai dengan aturan atau perintah yang ada ( selalu minta dipenuhi, kontrol diri kurang, dan tidak dapat memecahkan masalah) terjadi pada masa kanak-kanak, secara tidak langsung akibat dari kecacatan mental, keterlambatan berbahasa, gangguan emosi, dan kerusakan pada sensori atau gerak.
Adi Saputro merupakan bocah 7 tahun warga desa Nguling Pasuruan yang dipasung sejak umur 3 tahun. Keluarga Adi sudah tidak tahan dengan perilaku adi sehingga keluarga memasung adi. Sudah banyak cara dilakukan keluarga untuk menyembuhkan adi, mulai dari menitipkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan rehabilitasi hingga ke orang pintar, namun semuanya tidak berhasil.
Adi memiliki tingkah laku lain daripada anak seusianya. Saat berusia 3 tahun adi sering mengambil barang lalu membuangnya, keluarga kewalahan dengan ulah adi yang selalu merusak barang, tidak hanya barang yang ada dirumah, bahkan adi juga merusak barang milik tetangganya. Untuk menghentikan aktivitas berlebihan dari adi, keluarga terpaksa mengikat kaki adi dengan tali karena adi dinilai terlalu aktif (hiperaktif).
Sekarang, Adi berusia 7 tahun, Adi dibawa ke Rumah Sakit Bangil Pasuruan untuk menjalani pemerikasaan dan perawatan. Adi ditemani bibinya, saat dirumah sakit adi harus selalu diawasi dan diikat kakinya agar tidak mengganggu pasien lain, tidak jauh beda dengan di rumah, adi harus di awasi dan diikat kakinya. Dari pihak Rumah Sakit Bangil Pasuruan menduga bawa adi mengalami hiperaktif dan epilepsi.



BAB II
TELAAH KRITIS

a.     Menurut pendapat Ahli
Menurut Supratekyo (1995) Anak Hiperaktif merupakan Anak yang sulit berkonsetrasi, perhatiannya sangat mudah beralih, motorik berlebihan, dan sulit mematuhi perintah.
Menurut Carrol  (1994) “there are gemine of attention deficit and hyperactivity where the child experiences great difficulty in controlling his or her motor responses and exhibits high levels in inappropriate activity troughout the day” (dalam Peter Westwood,1997). Dari batasan tersebut dapat digambarkan bahwa anak dengan attention deficit dan hiperaktif adalah anak yang mempunyai kesukaran untuk mengontrol perilakunya atau motoriknya dalam memberikan respon dan menunjukkan aktivitas berlebihan dan aktivitas tersebut banyak yang tidak tepat, tidak pantas dan itu dilakukan sepanjang hari.
Menurut beberapa ahli Hiperaktif digolongkan menjadi 3 tipe yaitu :
1.        Tipe susah berkonsentrasi (Inattention)
Anak tipe ini sering sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak hiperaktif atau impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala hiperaktif. Tipe ini kebanyakan terdapat pada anak perempuan. Mereka seringkali melamun dan  digambarkan seperti sedang berada di awang-awang.
2.        Tipe Hiperaktif & Impulsif
Anak tipe ini sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif, dan impulsif. Kebanyakan anak hiperaktif termasuk tipe seperti ini.
3.        Tipe Gabungan
Anak tipe ini ditandai dengan anak sering melamun, tidak fokus pada hal-hal yang ada disekitarnya, anak tidak bisa diam, anak tidak memikirkan konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya. Tipe ini merupakan gabungan dari tipe innatention dan hiperaktif-impulsif.
            Menurut Dokter Zakiudin Munasir, Sp A (K), staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, secara umum penyebab anak hiperaktif ada dua yaitu :
1.        Dilihat dari sisi medis, penyebab anak hiperaktif karena kelainan organik di susunan sarafnya. Kelainan organik bisa disebabkan banyak hal, Bisa karena trauma pada sesuatu, karena benturan di salah satu anggota tubuhnya,
atau tumor di otak. Jadi, karena adanya kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak menyebabkan rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan.
2.        Dilihat dari sisi psikologi, penyebab anak hiperaktif  karena kelainan tingkah laku. Secara psikologi bisa disebabkan lingkungan, baik keluarga atau teman bermain. Orangtua yang kurang perhatian dan membiarkan anaknya melakukan apa saja, bisa membuat anak hiperaktif.
            Menurut Sydney Walker III, hiperaktif bisa muncul kerena efek adanya infeksi bakteri, cacingan, keracunan logam dan zat berbahaya (Pb, CO, Hg), gangguan metabolisme, gangguan endoktrin, diabetes, dan gangguan pada otak. Dengan mengatasi penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya, maka hiperaktivitas pun dapat tertanggulangi. Penyakit keturunan seperti turner syndrome, sickle-cell anemia, fragilex, dan marfan syndrome juga dapat menimbulkan hiperaktif. Karenanya, hiperaktif bisa juga ditemukan dalam garis keturunan. Bukan hiperaktifnya yang diturunkan, tapi penyakit yang bisa menyebabkan hiperaktif.
            Menurut Erick Taylor (1997) dalam buku Anak Hiperaktif, ada lima penyebab dari anak hiperaktif, yaitu:
1.        Kondisi Saat Hamil dan Persalinan merupakan suatu kondisi yang perlu diperhatikan demi perkembangan anak.  Kondisi janin yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki dan ekskresi protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
2.        Cedera yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif adalah cedera pada otak sesudah lahir. Hal ini  disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
3.        Tingkat Keracunan Timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak. Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif.
4.        Lemah Pendengaran disebabkan oleh infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali dan perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut: perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara, dan lebih banyak berreaksi terhadap perubahan mimik dan isyarat.
5.        Faktor Psikis lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas.
­­­­            Menurut Ibnu Syamsi (1997) dalam buku Dinamika Pendidikan menjelaskan bahwa ada empat karakteristik dari anak hiperaktif yaitu
1.        Overaktivity
Anak overaktivity adalah anak yang suka bergerak  disekitarnya, sering dan lebih cepat, dan gerakan itu tanpa  tujuan. Di sekolah pun mereka sering keluar dari tempat duduk, sewaktu duduk pun kaki dan tangannya tidak pernah diam.  Hal ini menjadikan anak hiperaktif kelihatannya seperti anak yang nakal dan susah diatur.
2.        Distratibility (kebingungan)
Distratibility adalah tingkah laku yang kurang mendapatkan perhatian. Secara khusus, anak ini mengalami hiperaktif dengan ciri-ciri yaitu: Mempunyai jangka waktu perhatian yang pendek  dan perhatiannya tidak tertambat pada aktivitas yang diikuti oleh sebagian anak-anak, Fokus perhatiannya berganti dengan cepat  dan sedikit proses belajar yang terjadi dapat dirasakan,  Mempunyai kesulitan untuk memberikan perhatian dan mengarahkan pada rangsangan-rangsangan saat pelajaran di sekolah.
3.        Impulsifity (menurut kata hati)
Impulsifity adalah tingkah laku yang kecenderunganya cepat atau tidak sistematis  dan tidak menghiraukan akibat yang mungkin terjadi dari tindakannya. Tingkah laku anak ini seperti:  memanjat pohon dan tidak dapat turun, menyinggung perasaan orang lain dengan ucapannya, dan berlari diiantara mobil yang diparkir untuk mencari sesuatu.
4.        Exitability (mudah tersinggung)
Exitability adalah tingkah laku yang mudah terangsang untuk sifat positif dan negatif seperti: lekas marah, toleransi yang rendah dan kecewa, perubahan suasana hati  secara dramatis dan cepat. Tingkah lakunya juga sulit diduga, sehingga sulit berinteraksi dengan lingkungannya.
            Menurut Dr. Mary Go Setiawani (2000) Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menangani anak hiperaktif yaitu
1.    Penggunaan Obat
Dokter umumnya menganjurkan penggunaan obat untuk menolong anak yang hiperaktif, dan hal itu pun sudah dibuktikan bermanfaat dalam menenangkan mereka. Jika masalahnya cukup serius dan penyebabnya bukan masalah emosi, maka penggunaan obat harus sesuai dengan petunjuk dokter dan jangan sampai ada efek sampingannya. Penting sekali untuk berkonsultasi dengan dokter ahli saraf.
2.    Pengaturan Makanan
Dalam konsultasi dengan dokter sebaiknya orangtua menanyakan apakah anaknya itu alergi terhadap satu macam makanan. Selain itu, perlu ada pengendalian terhadap makanan sebab ada banyak bukti terhadap kebenaran ini.
3.    Hindarkan Pemanjaan
Anak jangan dimanjakan jika tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. Orangtua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orangtua ingin ditaati oleh anak-anaknya supaya pernyataan ini juga memberi rasa aman kepada anak. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam, keras, diktator atau berhati baja, tetapi sebaliknya justru untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan.
4.    Menciptakan Lingkungan yang Tenang
Orang tua berupaya menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak, misalnya: di kamar atau di ruang bermain. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising, sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik.
5.    Memilih Acara Televisi dengan Hati-hati
Acara televisi yang menampilkan adegan kekerasan, lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan, dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. Oleh sebab itu, pilihlah acara televisi yang beradegan lembut dan baik.
6.    Gunakan Tenaga Ekstra dengan Tepat
Anak hiperaktif biasanya kurang dapat mengendalikan diri. Namun, apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat, sesungguhnya akan mengurangi keonaran. Misalnya dengan mengizinkan dia mengikuti aktivitas di luar rumah atau membuat pekerjaan rumah bersama teman atau mengikutsertakan dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga dengan demikian ia dapat menyalurkan tenaga ekstranya dengan benar.
7.    Membimbing dalam Kebenaran
Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dengan perilakunya, orangtua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah, kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini, walaupun harus dilakukan secara berulang-ulang. Apabila orangtua tidak putus asa, anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah mengajak anak untuk berdoa kepada Tuhan dan bersandar pada pertolongan-Nya.

b.    Menurut Pendapat Pribadi
Menurut saya, hiperaktif merupakan suatu gejala kurang perhatian, sulit dikendalikan, impulsif, menentang, destruktif, tidak sabaran, memiliki aktivitas berlebihan ( aktivitas tidak tepat, tidak pantas, dan dilakukan sepanjang hari ) dan gejala tersebut muncul selama 6 bulan baru dapat disimpulkan sebagai hiperaktif.
Subyek dalam kasus ini diduga menderita hiperaktif, gejala yang dialami subyek adalah suka merusak barang yang ada disekitarnya dan tidak bisa diam. Sampai saat ini untuk mengatasi gejala tersebut, keluarga mengikat kaki subyek agar subyek bisa diam. Sebenarnya cara mengatasi gejala tersebut dengan mengikat kaki merupakan cara yang salah, cara tersebut bisa memberikan efek lebih buruk pada anak, selain itu anak menjadi lebih agresif karena anak cenderung dikurung dan tidak bisa mengeluarkan tenaga ekstranya. Sudah banyak cara dilakukan untuk menangani subyek, dari membawa subyek ke rumah sakit hingga ke orang pintar belum ada hasilnya.
Di indonesia banyak sekali terjadi kasus anak hiperaktif namun anak belum mendapatkan penanganan yang baik, orangtua rata-rata memberikan obat saat anak sedang mengamuk atau mengalami aktivitas berlebihan dan tidak bisa dihentikan, selain memberikan obat orangtua yang tidak mampu membeli obat untuk menangani anak hiperaktif orangtua cenderung akan mengurung anak dirumah, jika saat dikurung anak masih belum bisa ditangani maka anak akan diikat. Cara yang dilakukan beberapa orangtua anak hiperaktif diindonesia tersebut bisa dibilang salah, sebelum menangani anak hiperaktif sebaiknya perlu diadakan sosialisasi untuk menambah pengetahuan orangtua tentang hiperaktif, sehingga saat muncul gejala hiperaktif orangtua dapat melakukan beberapa upaya menangani anak hiperaktif dengan baik dan benar dan jangan lupa berkonsultasi dengan ahli.
Untuk mengatasi hiperaktif orangtua bisa melakukan beberapa hal seperti menggunakan obat ( penggunaan obat harus diperhatikan, obat selalu memiliki efek samping, jangan sampai saat sedikit gejala kehiperaktifan muncul karena tidak sabar orangtua langsung memberikan obat ) , menyalurkan tenaga ekstra anak dengan kegiatan yang disukai ( orangtua harus mencari tahu apa yang disukai anak, sehingga tenaga anak akan berkurang tanpa anak harus melakukan aktivitas yang tidak pantas dan dilakukan sepanjang hari), harus tegas pada anak (orangtua jangan memanjakan anak, anak hiperaktif jika dimanjakan maka kehiperaktifan akan bertambah, dan saat permintaan anak tidak dituruti anak biasanya mengamuk), menciptakan suasana yang aman dan nyaman untuk anak (orangtua menyediakan ruang khusus anak untuk bermain atau melakukan kegiatan yang disukai), menunjukkan mana aktivitas yang benar dan salah yang dilakukan anak.

c.      Menurut Fakta di Lapangan
Jumlah anak penderita hiperaktif di indonesia belum dapat diketahui, namun dilihat dari jumlah pasien Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Al Islam Bandung. Wadir Bidang Medik & Keperawatan RS Al Islam Bandung dr. Rita Herawati, Sp.Pk., tahun 2006 RSAI menerima pasien 31 orang. Akan tetapi, tahun berikutnya meningkat menjadi 40 orang, dapat disimpulkan bahwa jumlah penderita hiperaktif di kota bandung terus meningkat.
Di beberapa negara lain, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Literatur mencatat, jumlah anak hiperaktif di beberapa negara 1:1 juta. Sedangkan di Amerika Serikat jumlah anak hiperaktif 1:50. Jumlah ini cukup fantastis karena bila dihitung dari 300 anak yang ada, 15 di antaranya menderita hiperaktif.
Kasus anak hiperaktif meningkat setiap tahunnya diindonesia, namun penanganan kasus hiperatif masih rendah, orangtua dan pemerintah belum turun tangan aktif dalam penanganan hiperaktif. Telah banyak terjadi kasus pemasungan diindonesia bahkan ada balita yang dipasung karena diduga hiperaktif. Seharusnya Orangtua diberikan pengetahuan lebih lanjut tentang penanganan hiperaktif agar anak hiperaktif dapat tertangani dengan baik. Untuk menangani anak hiperaktif memang harus sabar, prosesnya bertahap.

















BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
·      Anak dengan attention deficit dan hiperaktif adalah anak yang mempunyai kesukaran untuk mengontrol perilakunya atau motoriknya dalam memberikan respon dan menunjukkan aktivitas berlebihan dan aktivitas tersebut banyak yang tidak tepat, tidak pantas dan itu dilakukan sepanjang hari.
·      Tipe hiperaktif yaitu Tipe susah berkonsentrasi (Inattention), Tipe Hiperaktif & Impulsif, dan Tipe Gabungan.
·      Penyebab terjadinya hiperaktif yaitu kondisi hamil & persalinan, cedera, keracunan timbal, lemah pendengaran, dan faktor psikis.
·      Karakteristik anak hiperaktif yaitu Overaktivity Distratibility (kebingungan), Impulsifity (menurut kata hati), Exitability (mudah tersinggung)
·      Penanganan anak hiperaktif yaitu Penggunaan Obat, Pengaturan Makanan, Hindarkan Pemanjaan, Menciptakan Lingkungan yang Tenang, Memilih Acara Televisi dengan Hati-hati, Gunakan Tenaga Ekstra dengan Tepat, Membimbing dalam Kebenaran.
B.   Saran
·      Sebaiknya dilakukan upaya deteksi dini terhadap gangguan-gangguan perkembangan, khususnya hiperaktif. Orangtua hendaknya tahu gejala-gejala hiperaktif pada balita / anaknya karena hiperaktif dialami oleh anak-anak dan apabila gejala tersebut muncul selama kurang lebih 6 bulan maka dapat disebut hiperaktif, setelah diketahui atau diduga hiperaktif sebaiknya dikonsultasikan pada ahli, agar dapat diketahui cara penanganan yang tepat untuk anak, jangan sampai melakukan tindakan yang salah untuk menghentikan anak hiperaktif.



DAFTAR PUSTAKA

·         Suharmini Tin. 2005. Penanganan Anak Hiperaktif. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. Jakarta
·         http://www.indosiar.com/patroli/menderita-hiperaktif-bocah-dipasung_68005.html diakses pada tanggal 04 Juni 2014
·         http://artikelkesehatananak.com/penyebab-anak-hiperaktif-dan-penanganannya.html html diakses pada tanggal 04 Juni 2014
·         http://keluargasehat.wordpress.com/2008/04/01/alternatif-anak-hiperaktif/ diakses pada tanggal 04 Juni 2014
·         Menerobos Dunia Anak, Dr. Mary Go Setiawani, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000


LAMPIRAN
Menderita Hiperaktif, Bocah Dipasung
Indosiar.com 15-Feb-2008 16:54:56 WIB
                                                                     indosiar.com, Pasuruan - Adi Saputro seorang bocah berumur 7 tahun di Pasuruan, Jawa Timur dipasung gara - gara hiperaktif. Adi memang memiliki tingkah laku lain dari anak - anak seusianya, ia sering merusak barang - barang di dalam rumah bahkan milik tetangganya. Untuk menghentikan aktivitas Adi yang berlebihan tersebut keluarganya memilih mengikat kaki Adi dengan tali. Kini Adi dirawat di rumah sakit.

Sungguh malang nasib Adi Saputro bocah umur 7 tahun warga Desa Nguling Pasuruan. Adi tidak bisa bermain bersama teman seusianya karena kaki kirinya diikat seutas tali. Keluarganya memasung Adi sejak 3 tahun lalu karena dinilai terlalu aktif (hiperaktif).
Adi kecil seringkali mengambil barang lalu membuangnya. Adi juga sering merepotkan keluarganya karena merusak barang milik tetangganya. Berbagai usaha telah dilakukan oleh keluarganya mulai menitipkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan rehabilitasi hingga ke orang pintar, namun semuanya tidak berhasil.
Beberapa hari lalu Adi Saputro dirujuk ke Rumah Sakit Bangil Pasuruan untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan. Selama di rumah sakit Adi Saputro ditemani bibinya yang selama ini merawatnya. Namun tidak beda jauh selama ia berada di rumah. Setiap kegiatan bocah ini harus selalu diawasi dan kakinya tetap diikat tali.
Hal ini dilakukan agar bocah malang ini tidak terlalu banyak bergerak dan mengganggu pasien lain. Pihak rumah sakit masih melakukan pemeriksaan, namun diduga bocah ini mengalami penyakit epilepsi dan hiperaktif. Semua biaya perawatan Adi Saputro akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah Pasuruan. (Tim Liputan/Dv).
http://www.indosiar.com/patroli/menderita-hiperaktif-bocah-dipasung_68005.html