Tuesday, September 10, 2013

KURIKULUM 2013 VS REALITA GURU

KASUS
KURIKULUM 2013 VS REALITA GURU
 
Pendidikan memang harus berubah itulah mungkin yang menjadi perdebatan para ahli pendidikan dan pemerintah yang akhirnya menyatakan bahwa kurikulum 2006  telah gagal membawa negara lebih baik dibidang pendidikan. Untuk itulah pemerintah kini sedang menggodok kurikulum 2013 yang bakal menjadi pengganti kurikulum sebelumnya. Sejak kurikulum 2006 dimulai ternyata  kasus  demi tetap datang bergelombang, dari mulai materi yang terlalu padat, buku pelajaran yang diseragamkan, dan kemampuan guru yang lemah dalam implementasikan kurikulum tersebut. Belum lagi masalah moral yang belum berhenti seperti tawuran pelajar, bullying, contekan masal. Ditambah lagi dengan rendahnya sistem pengelolaan pendidikan ditingkat lokal, dimana pendidikan menjadi praktik jual beli, penyelewangan dana BOS, pemalakan sekolah oleh oknum UPTD, pengawas dan praktik jual beli jabatan kepala sekolah.
            Kini Kurikulum 2013 yang sedang masuk tahap uji publik pun mulai mendapat kritik. Penggantian kurikulum bukanlah solusi tepat untuk  merubah pendidikan yang lebih baik. Asalkan kita tahu,  untuk tingkat SD saat ini ada sepuluh mata pelajaran yang diajari yaitu, pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan diri. Tapi versi kurikulum 2013 nanti yaitu mulai tahun ajaran 2013/2014 jumlah mata pelajaran akan diringkas menjadi tujuh, yaitu pendidikan Agama, pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, serta Pramuka. Kurikulum 2013 memiliki program Penggabungkan beberapa mata pelajaran dan penambahan jam mata pelajaran.
Menurut  Pro HAR Tillar Guru Besar Emiritus UNJ yang mengatakan bahwa kurikulum bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah sarana. Beliau menyangsikan kalau pembuat kurikulum ini tidak mengerti tujuan dari kurikulum yang sebenarnya. Dan bukan sekadar menjadi proyek jabatan semata. Dan seharusnya tujuan kurikulum mesti mampu menjadikan anak bangsa mengelola Sumber Daya Alam dan budaya guna meningkatkan taraf hidup.
 
ANALISIS
KURIKULUM 2013 VS REALITA GURU
 
Kurikulum merupakan seperangkat / sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Kurikulum sangatlah penting bagi jalannya pendidikan. Untuk menyempurnakan pendidikan di Indonesia maka kurikulum pendidikan dari tahun ke tahun selalu ada pembaharuan. Dan sekarang ini muncul kurikulum 2013 yang diharapkan mampu untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.
Dari Kurikulum 2006 yang dianggap gagal pendidikan yang lebih baik bagi Indonesia karena memiliki banyak kelemahan seperti terlalu banyak materi, lemahnya kemampuan implementasi/penerapan guru terhadap kurikulum, dan buku mata pelajaran yang diseragamkan maka tercetuslah kurikulum 2013 yang memiliki beberapa kelebihan dari pada kurikulum sebelumnya seperti penggabungan mata pelajaran dan penambahan jam mata pelajaran.
Kurikulum 2013 mulai tahun ajaran 2013/2014 jumlah mata pelajaran menjadi tujuh, yaitu pendidikan Agama, pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, serta Pramuka. Mata pelajaran IPA dan IPS akan dibahas dalam setiap mata pelajaran.
Penggabungan mata pelajaran bisa dibilang kurang efektif apalagi disebutkan bahwa mata pelajaran IPS akan dibahas disetiap mata pelajaran. Mata pelajaran IPS memiliki beberapa cabang mulai dari geografi, sejarah, sosiologi mungkin saja bisa dimasukkan dalam setiap pembahasan disetiap mata pelajaran namun pelajaran IPS mungkin hanya dianggap sebagai mata pelajaran tambahan karena materi yang didapatkan siswa pada pelajaran IPS tersebut mungkin hanya dasar-dasarnya saja. Padahal mata pelajaran IPS bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi setiap hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarkat. Sebelumnya sudah ada pelajaran IPS terpadu namun belum terlaksana dengan baik karena IPS Terpadu sendiri belum menggambarkan satu kesatuan yang terintegrasi, melainkan masih terpisah-pisah antar bidang ilmu-ilmu sosial, (2) Latar belakang guru yang mengajar merupakan guru dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda, belum ada guru yang mempunyai latar belakang sebagai guru IPS Terpadu, (3) Terdapat kesulitan pembagian tugas dan waktu pada masing-masing guru mata pelajaran untuk pembelajaran IPS Terpadu, dan (4) Kurangnya sosialisasi mengenai pembelajaran IPS Terpadu (Depdiknas, 2007a: 5). Pada dasarnya penggabungan mata pelajaran pada kurikulum 2013 ini belum efektif mungkin nantinya akan timbul masalah-masalah selanjutnya.
Selanjutnya pada penambahan jam mata pelajaran, sebenarnya semakin lama mata pelajaran maka tingkat konsentrasi siswa semakin menurun. Pada masalah penambahan jam mata pelajaran juga belum efektif karena belum tentu jika penambahan jam pelajaran benar-benar diterapkan peserta didik akan menjadi lebih pintar / pendidikan di Indonesia akan lebih baik.
Bahkan seorang guru besar berani mengungkapkan bahwa kurikulum bukanlah sekedar proyek jabatan semata, namun seharusnya kurikulum bertujuan untuk menjadikan anak bangsa mengelola sumber daya alam dan budaya guna meningkatkan taraf hidup. Inilah salah satu bukti adanya kesanksian terhadap kurikulum 2013 apalagi kurangnya kemampuan guru dalam mengimplementasikan kurikulum.
Jadi menurut saya, kurikulum 2013 masih belum sempurna. Seharusnya pemerintah bukan mengajukan kurikulum baru yang akan menambah daftar masalah dibidang pendidikan, pemerintah seharusnya membenahi / memperbaiki kurikulum sebelumnya jangan hanya jika kurikulum dianggap gagal, maka kurikulum akan diganti. Untuk mencapai pendidikan yang baik di indonesia diperlukan elemen dan pengelolaan pendidikan yang baik oleh pemerintah, Jika pemerintah hanya mengejar proyek jabatan saja tanpa ikut berpartisipasi mengelola pendidikan yang baik maka pendidikan di indonesia akan semakin terpuruk saja.

Diketik oleh : Ratih Adityaningrum guna memenuhi tugas kuliah :D

No comments: