Wednesday, June 27, 2012

Analisis Ilmiah Artikel Anak Tunarungu smtr 2


ANALISIS ILMIAH ARTIKEL ANAK TUNARUNGU
Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Ortopedhagogik Anak Tunarungu
Yang diampu Dosen Priyono, M. Si.


Oleh :

Novi Damayanti                      K5111042
Oriana Tamara                        K5111043
Ratih Adityaningrum              K5111049
Tri Wiryanto                            K5111063




PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul ANALISIS ILMIAH ARTIKEL ANAK TUNARUNGU” untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Orpedagogik Anak Tuna Rungu.

Makalah ini berisikan Analisis Ilmiah tiga jurnal tentang Metode pengajaran bahasa untuk anak tuna rungu. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Analisi  ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Analisis Ilmiah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


        Surakarta,      Mei 2012


                   ( Penulis )















DAFTAR ISI

Halaman Judul...................................................................................................................
Kata Pengantar...................................................................................................................
Daftar Isi............................................................................................................................
Bab I : Pendahuluan...........................................................................................................
a.       Latar Belakang Penulisan......................................................................................
b.      Rumusan Masalah..................................................................................................
c.       Tujuan Penulisan....................................................................................................
d.      Manfaat Penulisan.................................................................................................
Bab II : Alternatif Pemecahan Masalah.............................................................................
a.       Metode Pengajaran Bahasa Bagi Anak Tunarungu...............................................
b.      Perkembangan Berbahasa Anak Tunarungu..........................................................
c.       Cara Meningkatkan kemampuan percakapan Bahasa inggris Anak Tunarungu...
Bab III : Penutup................................................................................................................
a.       Kesimpulan...........................................................................................................
b.      Saran......................................................................................................................
Daftar Pustaka....................................................................................................................
i
ii
iii
1
1
2
2
2
3
3
9
13
16
16
17
18

















BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Penulisan
Setiap manusia yang lahir di dunia tidak semuanya sempurna. Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pada organ pendengarannya sehingga mengakibatkan ketidakmampuan mendengar, mulai dari tingkatan yang ringan sampai yang berat sekali yang diklasifikasikan kedalam tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing). Anak tunarungu akan memiliki hambatan dalam komunikasi verbal/lisan, baik itu secara ekspresif (berbicara) maupun reseptif (memahami pembicaraan orang lain). Hambatan dalam komunikasi tersebut, berakibat juga pada hambatan dalam proses pendidikan dan pembelajaran anak tunarungu.
            Pemerolehan bahasa pada anak tunarungu tidak sama halnya dengan anak dengar. Pemerolehan bahasa pada anak dengar berawal dari pengalaman atau situasi bersama antara bayi dan ibunya atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Melalui pengalamannya orang akan belajar menghubungkan antara pengalaman dan lambang bahasa yang diperoleh melalui pendengarannya. Anak dengar akan mampu menghubungkan pengalaman dan lambang bahasa melalui pendengaran, sedangkan anak tunarungu tidak. Ini disebabkan karena adanya disfungsi pada pendengarannya. Anak tunarungu akan mengutamakan indra penglihatannya dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya dibandingkan dengan indra pendengarannya.





B.  Rumusan Masalah
a.       Apakah Jenis Ketunarunguan menurut lokasi gangguannya ?
b.      Apakah Klasifikasi Tunarungu menurut Ashman dan Elkins (1994) ?
c.       Bagaimana Metode pengajaran bagi anak tunarungu?
d.      Apakah materi pengajaran untuk anak tunarungu ?
e.       Apakah yang dimaksud dengan pengajaran dengan metode make a match ?
C.  Tujuan Penulisan
a.       Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Orped Anak Tunarungu.
b.      Untuk mengetahui jenis-jenis ketunarunguan.
c.       Untuk memahami bagaimana metode pengajaran untuk anak tunarungu.
D.  Manfaat Penulisan
a.       Manfaat Teoritis :
Telaah kritis jurnal ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan ilmiah dalam cara pengajaran atau metode pengajaran bagi anak tunarungu.
b.      Manfaat Praktis :
a. Bagi orangtua agar lebih dapat menerima kekurangan pada anak tunarungu. Hal ini supaya anak tunarungu dapat menumbuhkan dan mengembangkan penyesuaian dirinya.
b. Bagi anak tunarungu, diharapkan dapat menerima kekurangan yang ada pada dirinya secara apa adanya, dengan demikian anak dapat melakukan penyesuaian diri dengan baik serta dapat melakukan berbagai aktivitas seperti halnya anak normal.
c. Bagi mahasiswa, dapat menumbuhkan motivasi dalam diri anak tunarungu bahwa dia juga mampu bertinteraksi dengan baik dan dapat mengetahui metode pengajaran yang baik untuk anaktunarungu.

                                                                                               
BAB II
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
TELAAH KRITIS 1
METODE PENGAJARAN BAHASA
BAGI ANAK TUNARUNGU
Easterbrooks (1997) mengemukakan bahwa terdapat tiga jenis utama ketunarunguan menurut lokasi ganguannya:
  1. Conductive loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat gangguan pada bagian luar atau tengah telinga yang menghambat dihantarkannya gelombang bunyi ke bagian dalam telinga.
  2. Sensorineural loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat kerusakan pada bagian dalam telinga atau syaraf auditer yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak. (Ketunarunguan Andi tampaknya termasuk ke dalam kategori ini.
  3. Central auditory processing disorder, yaitu gangguan pada sistem syaraf pusat proses auditer yang mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinganya itu sendiri.
Berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi, Ashman dan Elkins (1994) mengklasifikasikan ketunarunguan ke dalam empat kategori, yaitu:
  1. Ketunarunguan ringan (mild hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 20-40 Db (desibel). Mereka sering tidak menyadari bahwa sedang diajak bicara, mengalami sedikit kesulitan dalam percakapan.
  2. Ketunarunguan sedang (moderate hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 Db. Tunarungu mengalami kesulitan dalam percakapan tanpa memperhatikan wajah pembicara, sulit mendengar dari kejauhan atau dalam suasana gaduh, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar (hearing aid).
  3. Ketunarunguan berat (severe hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 65-95 Db. Mereka sedikit memahami percakapan pembicara bila memperhatikan wajah pembicara dengan suara keras, tetapi percakapan normal praktis tidak mungkin dilakukannya, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar.
  4. Ketunarunguan berat sekali (profound hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 95 Db atau lebih keras. Mendengar percakapan normal tidak mungkin baginya, sehingga dia sangat tergantung pada komunikasi visual. Sejauh tertentu, ada yang dapat terbantu dengan alat bantu dengar tertentu dengan kekuatan yang sangat tinggi (superpower).

Di Negara Australia 59% dari populasi tunarungu menyandang ketunarunguan ringan, 11% sedang, 20% berat, dan 10% tidak dapat dipastikan (Cameron, 1982, dalam Ashman dan Elkins, 1994). Dalam audiologi ditetapkan tingkat 0 yang berbeda, yang disebut 0 Db klinis atau 0 audiometrik. Nol inilah yang tertera dalam audiogram, yang merupakan grafik tingkat ketunarunguan. Nol audiometrik adalah tingkat intensitas bunyi terendah yang dapat terdeteksi oleh telinga orang rata-rata dengan telinga yang sehat pada frekuensi 1000 Hz (Ashman & Elkins, 1994).
Metode Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
1)      Belajar Bahasa Melalui Membaca Ujaran (Speechreading)
Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat mengenai bunyi-bunyi yang “tersembunyi” itu. Jadi, orang tunarungu yang bahasanya normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu prabahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non-tunarungu tanpa latihan dapat membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus bergantung pada cara ini (Ashman & Elkins, 1994).
Tapi pada dasarnya anak tunarungu dapat memahami pembicaraan orang lain  hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir (Berger, 1972). Di antara 50% lainnya, sebagian dibuat di belakang bibir yang tertutup atau jauh di bagian belakang mulut sehingga tidak kelihatan, atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembaca bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa. Kelemahan sistem baca ujaran ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi membaca ujaran (speechreading).
Tujuan dari pengembangan komunikasi isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Cued Speech telah diadaptasikan ke sekitar 60 bahasa dan dialek. Keuntungan dari sistem isyarat ini adalah mudah dipelajari (hanya dalam waktu 18 jam), dapat dipergunakan untuk mengisyaratkan segala macam kata (termasuk kata-kata prokem) maupun bunyi-bunyi non-bahasa. Anak tunarungu yang tumbuh dengan menggunakan cued speech ini mampu membaca dan menulis setara dengan teman-teman sekelasnya yang non-tunarungu (Wandel, 1989 dalam Caldwell, 1997).
2)      Belajar Bahasa Melalui Pendengaran
            Tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang dipergunakannya. Di samping itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibat kehabisan batrai dan earmould yang tidak cocok.
3)      Belajar Bahasa secara Manual
            Anak tunarungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau bahasa isyarat. Untuk tujuan universalitas, berbagai negara telah mengembangkan bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa komunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang eksklusif.
4)      Pendekatan Auditori verbal
Pendekatan auditori-verbal bertujuan agar anak tunarungu tumbuh dalam lingkungan hidup dan belajar yang memungkinkanya menjadi warga yang mandiri, partisipatif dan kontributif dalam masyarakat inklusif. Falsafah auditori-verbal mendukung hak azazi manusia yang mendasar bahwa anak penyandang semua tingkat ketunarunguan berhak atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan menggunakan komunikasi verbal di dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Tujuannya adalah untuk mengajarkan prinsip-prinsip auditori verbal kepada orang tua yang mempunyai bayi tunarungu (Goldberg, 1997).
Prinsip-prinsip praktek auditori verbal itu adalah sebagai berikut:
  • Berusaha sedini mungkin mengidentifikasi ketunarunguan pada anak, idealnya di klinik perawatan bayi.
  • Memberikan perlakuan medis terbaik dan teknologi amplifikasi bunyi kepada anak tunarungu sedini mungkin.
  • Membantu anak memahami makna setiap bunyi yang didengarnya, dan mengajari orang tuanya cara membuat agar setiap bunyi bermakna bagi anaknya sepanjang hari.
  • Membantu anak belajar merespon dan menggunakan bunyi sebagaimana yang dilakukan oleh anak yang berpendengaran normal.
  • Menggunakan orang tua anak sebagai model utama untuk belajar ujaran dan komunikasi lisan.
  • Berusaha membantu anak mengembangkan sistem auditori dalam (inner auditory system) sehingga dia menyadari suaranya sendiri dan akan berusaha mencocokkan apa yang diucapkannnya dengan apa yang didengarnya.
  • Memahami bagaimana anak yang berpendengaran normal mengembangkan kesadaran bunyi, pendengaran, bahasa, dan pemahaman, dan menggunakan pengetahuan ini untuk membantu anak tunarungu mempelajari keterampilan baru.
  • Mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak dalam semua bidang.
  • Mengubah program latihan bagi anak bila muncul kebutuhan baru.
  • Membantu anak tunarungu berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan maupun sosial bersama-sama dengan anak-anak yang berpendengaran normal dengan memberikan dukungan kepadanya di kelas reguler.
5)      Pendekatan Auditori Oral
Pendekatan auditori oral didasarkan atas premis mendasar bahwa memperoleh kompetensi dalam bahasa lisan, baik secara reseptif maupun ekspresif, merupakan tujuan yang realistis bagi anak tunarungu. Kemampuan ini akan berkembang dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan di mana bahasa lisan dipergunakan secara eksklusif. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan rumah dan sekolah (Stone, 1997).
Elemen-elemen pendekatan auditori oral yang sangat penting untuk menjamin keberhasilannya mencakup:
  • Keterlibatan orang tua. Untuk memperoleh bahasa dan ujaran yang efektif menuntut peran aktif orang tua dalam pendidikan bagi anaknya.
  • Upaya intervensi dini yang berfokus pada pendidikan bagi orang tua untuk menjadi partner komunikasi yang efektif.
  • Upaya-upaya di dalam kelas untuk mendukung keterlibatan anak tunarungu dalam kegiatan kelas.
  • Amplifikasi yang tepat. Alat bantu dengar merupakan pilihan utama, tetapi bila tidak efektif, penggunaan cochlear implant merupakan opsi yang memungkinkan.
Kesimpulan :
Metode Pengajaran Anak tunarungu dibagi menjadi beberapa metode :
1.      Belajar Melalui Membaca Ujaran
2.      Belajar Bahasa Melalui Pendengaran
3.      Belajar Bahasa Secara Manual
4.      Pendekatan Auditpori Verbal
5.      Pendekatan Auditori Oral
Metode Pengajaran diatas memiliki kelemahan dan kelebihan. Agar hasil pembelajarannya lebih efektif maka diperlukan kombinasi-kombinasi metode diatas.





TELAAH KRITIS 2
Perkembangan Berbahasa Anak Tunarungu

Menurut myklebust ada tiga cara untuk membantu pengembangan bahasa bagi anak tunarungu, yaitu membaca, isyarat, dan juga membaca ujaran (paling efektif dan efisien).
Apabila membaca ujaran menjadi dasar pengembangan bahsa batini anak tunarungu, kita dapat melatih anak tunarungu untuk menghubungkan pengalamam yang diperolehnnya dengan gerak bibir dan mimic pembicara. Bagi anak kurang dengar yang menggunakan alat bantu dengar, dapat menghubungkannya dengan lambing bunyi bahasa (lambing auditori). Setelah itu, anak tunarungu mulai memahami hubungan antara lambing bahasa (visual & auditori) dangan benda atau kejadian sehari-hari, sehingga terbentuk bahasa reseptif visual/ auditori.
Pemerolehan bahasa anak tunarungu diberikan di sekolah melalui layanan khusus yang menekankan pada percakapan, seperti halnya percakapan yang terjadi antara anak mendengar dengan ibunya/ orang terdekatnya dalam pemerolehan bahasa, dengan memperhatikan sensori yang dapat memberikan stimulasi.
Pelaksanaan layanan bina bicara :
-          Latihan prabicara
Latihan keterarahwajahan, keterarahsuaraan, dan pelemasan organ bicara,
-          Latihan Pernafasan
Meniup dengan hembusan, meniup dengan letupan, menghirup, dan mmenghembuskan nafas melalui hidung.
-          Latihan pembentukan suara
Menyadarkan anak untuk bersuara, merasakan getaran, menirukan ucapan guru sambil merasakan getaran, melafalkan vokal bersuara, dan meraban sambil merasakan getaran.
-          Pembentukan Fonem
-          Penggemblengan, pembentukan, dan penyadaran irama/aksen
-          Pengembangan

Nugroho ( 2004) mengemukakan bahwa materi yang diajarkan dalam layanan bicara
-          Materi fonologik : Fonem segmental dan Fonem Suprasegmental
-          Materi Morfologik : Kata dasar, kata jadian, kata ulang, dan kata majemuk
-          Materi sintaksis : kalimat berita, ajakan, perintah, larangan, dan kata tanya
-          Materi sistematik

Dalam pengembangan bicara anak tunarungu, ada beberapa metode yang didasarkan pada beberapa hal:
1.      Berdasarkan cara menyajikan Materi :
-          Metode Global Berdiferensiasi
Mengajar atau melatih anak berbicara, dimulai dengan ujaran secara utuh, baru kemudian menuju ke pembentukan fonem-fonem sebagai satuan bahasa kecil.
-          Metode Analisi Sintesis
Metode ini merupakan kebalikan dari metode global diferensiasi.
2.      Berdasarkan Modalitas yang dimiliki oleh anak tunarungu :
-          Metode tangkap dan peran ganda adalah bahwa ibu menangkap maksud ungkapan anak kemudian membahasnya dan menanggapi ungkapan tersebut, sehingga tercipta sebuah percakapan
-          Metode multi sensori
Menggunakan seluruh sensori untuk memperoleh kesan berbicara.
-          Metode suara
Metode pengajaran bicara yang lebih mengutamakan pada pemanfaatan sisa pendengaran dengan menggunakan sistem amplifikasi pendengaran.
3.      Berdasarkan Fenotika :
-          Metode yang bertitik tolak pada fonetik
Didasarkan pada mudah sukarnya bunyi-bunyi menurut ilmu fonetik, dan dianggap sama bagi semua bunyi.
-          Metode tangkap dan peran ganda
Metode yang menuntut kepekaan guru menangkap fonem yang diucapkan anak secara spontan. Metode ini didasarkan pada fonem yang paling mudah bagi tiap-tiap anak (prinsip individualitas).
Untuk keefektifan pelaksanaan pelatihan bicara pada anak tunarungu, dibutuhkan sarana dan prasarana yaitu
-          Alat stimulasi visual
-          Alat stimulasi auditoris
-          Alat stimulasi vibrasi
-          Alat latihan pernafasan
-          Alat pelemasan organ bicara

Pengembangan kemampuan berbicara merupakan serangkaian upaya agar anak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap utuk mengapresiasikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan berbicara. Ketunarungguan memberikan dampak terhadap perkembangan  bahasa dan bicaranya terutama bagi anak tunarungu sejak lahir(prabahasa). Pengembangan kemampuan berbahasa dan berbicara anak tunarungu harus dilakukan sedini mungkin agar diperoleh hasil yang efektif dengan menggunakan layanan khusus yang didukung dengan berbagai fasilitas. Anak tunarungu dapat memperoleh bahasa melalui belajar menghubungkan pengalaman dalam situasi bersama antara anak dan orangtua atau guru dengan lambang visual berupa gerakan organ artikulasi yang membentuk kata-kata. Kemampuan bicara anak tunarungu dikembangkan setelah bahasa reseptif anak mulai terbentuk. Tujuan akhir dari pengembangan kemampuan bicara pada anak tunarungu adalah agar ia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar untuk berkomunikasi dimasyarakat, bekerja dan berintegrasi dalam masyarakat, serta berkembang sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.





Kesimpulan :
Metode yang digunakan untuk membantu anak tuna rungu untuk berkomunikasi adalah membaca, bahasa isyarat, dan membaca ujaran. Pengembangan kemampuan berbicara merupakan serangkaian upaya agar anak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap utuk mengapresiasikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan berbicara. Tujuan akhir dari pengembangan kemampuan bicara pada anak tunarungu adalah agar ia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar untuk berkomunikasi dimasyarakat, bekerja dan berintegrasi dalam masyarakat, serta berkembang sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.



















TELAAH KRITIS 3
Cara Meningkatkan Kemampuan Percakapan Bahasa Inggris Siswa Tunarungu

            Beberapa faktor yang dianggap sebagai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam percakapan bahasa inggris, seperti tidak tertarik atau kurang senang karena pembelajarannya monoton dan pasif. Penelitian ini dilakukan melalui penerapan model pembelajaran “make a match”.
            Bagi siswa SMPLB, bahasa inggris merupakan materi baru. Salah satu standar kompetensi yang harus diajarkan pada siswa tunarungu dan tunagrahita di SMPLB adalah berbicara (speaking) dan di dalamnnya terdapat kompetensi dasar percakapan transaksional/interpersonal sangat sederhana dengan melibatkan berbagai tindak tutur. Tujuan utama pembelajaran bahasa inggris adalah agar siswa berlaku aktif dan mampu memahami materi tersebut sebagaimana yang telah digariskan dalam kurikulum.
Sesuai standar isi tahun 2006 pembelajaran bahasa inggris terdiri dari 4(empat)  standar kompetensi yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Standar kompetensi berbicara (speaking), yaitu mengungkapkan makna dalam teks percakapan transaksional/interpersonal lisan dan/atau isyarat sangat sederhana untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat. Adapun kompetensi dasarnya yaitu menggunakan makna dalam ragam bahasa lisan terutama dalam percakapan transaksional/ interpersonal sangat sederhana dan berterima yang melibatkan tindak tutur: menyapa yang belum/sudah dikenal, memperkenalkan diri sendiri/orang lain, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, memerintah atau melarang, meminta dan memberi informasi, mengungkapkan kesantunan.
Salah satu model pembelajaran yang dipandang sesuai untuk pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa tunarungu maupun tunagrahita di SMPLB adalah model Make a match. Dalam bahasa Indonesia model ini disebut model pembelajaran mencari pasangan. model pembelajaran make a match langkah-langkahnya, yaitu: 1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaiknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban, 2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu, 3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang, 4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban), 5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin, 6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, 7. Demikian seterusnya, 8. Kesimpulan/penutup.
Berdasarkan model pembelajaran di atas, pada penelitian ini guru menyiapkan kartu-kartu baik kartu gambar maupun kartu kata dan bisa juga berwujud benda nyata yang ada di sekitar kelas, misalnya buku, bolpen, penghapus, papan tulis, penggaris, tas, payung, gunting, bola, sepeda dan lain-lain. Benda nyata, kartu gambar maupun kartu kata yang disiapkan guru merupakan materi yang harus sesuai dengan sesi review pada saat pembelajaran tersebut. Dalam penelitian ini kartu gambar, kartu kata, dan benda nyata yang digunakan berfungsi sebagai media visual aids atau alat peraga yang diasumsikan dapat membantu para siswa dalam memahami materi Bahasa Inggris khususnya dalam berbicara percakapan Bahasa Inggris.
          ahli pendidikan berpendapat bahwa visual aids adalah teknik pembelajaran dengan penggunaan alat bantu pandang yang berupa gambar, poster, diagram dan leaflet (Sudjana, 2001:83). Sedangkan Soedjono (1956:84) menyatakan bahwa alat peraga visual adalah alat peraga yang dapat dilihat. Pada waktu menerima peragaan, indera yang aktif adalah penglihatan (mata). Digunakannya benda nyata, kartu gambar, kartu kata sebagai media visual aids dalam penelitian ini didasari oleh hasil penelitian Glenn Doman dan Janet Doman (2006) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan bantuan kartu kata yang berlanjut dengan kartu kalimat telah terbukti mampu merangsang anak-anak cedera otak, baik dalam kemampuan membaca maupun kemampuan lainnya.




Kesimpulan :
Standar kompetensi yang harus diajarkan pada siswa tunarungu dan tunagrahita di SMPLB adalah berbicara (speaking) dan di dalamnnya terdapat kompetensi dasar percakapan transaksional/interpersonal sangat sederhana dengan melibatkan berbagai tindak tutur. Tujuan utama pembelajaran bahasa inggris adalah agar siswa berlaku aktif dan mampu memahami materi tersebut sebagaimana yang telah digariskan dalam kurikulum. Didalam setiap pembelajaran harus didukung alat peraga yang membantu siswa tuna rungu dalam mengasumsikan sesuatu dalam pelajaran bahasa inggris.






















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Metode Pengajaran Anak tunarungu dibagi menjadi beberapa metode :
1.      Belajar Melalui Membaca Ujaran
2.      Belajar Bahasa Melalui Pendengaran
3.      Belajar Bahasa Secara Manual
4.      Pendekatan Auditpori Verbal
5.      Pendekatan Auditori Oral
Metode Pengajaran diatas memiliki kelemahan dan kelebihan. Agar hasil pembelajarannya lebih efektif maka diperlukan kombinasi-kombinasi metode diatas.
Metode yang digunakan untuk membantu anak tuna rungu untuk berkomunikasi adalah membaca, bahasa isyarat, dan membaca ujaran. Pengembangan kemampuan berbicara merupakan serangkaian upaya agar anak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap utuk mengapresiasikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan berbicara. Tujuan akhir dari pengembangan kemampuan bicara pada anak tunarungu adalah agar ia memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar untuk berkomunikasi dimasyarakat, bekerja dan berintegrasi dalam masyarakat, serta berkembang sesuai dengan asas pendidikan seumur hidup.
Standar kompetensi yang harus diajarkan pada siswa tunarungu dan tunagrahita di SMPLB adalah berbicara (speaking) dan di dalamnnya terdapat kompetensi dasar percakapan transaksional/interpersonal sangat sederhana dengan melibatkan berbagai tindak tutur. Tujuan utama pembelajaran bahasa inggris adalah agar siswa berlaku aktif dan mampu memahami materi tersebut sebagaimana yang telah digariskan dalam kurikulum. Didalam setiap pembelajaran harus didukung alat peraga yang membantu siswa tuna rungu dalam mengasumsikan sesuatu dalam pelajaran bahasa inggris.
B.SARAN
Dengan adanya berbagai metode pengajaran bagi anak tunarungu diharapkan bisa mengatasi kelemahan anak tunarungu dalam pelajaran dan mengoptimalkan prestasi akademiknya.



















DAFTAR PUSTAKA


ü  bionet82.blogspot.com/2010/10/pendidikan-anak-tuna-rungu.html































SERTA METODE PENGAJARAN BAHASA
BAGI ANAK TUNARUNGU

Easterbrooks (1997) mengemukakan bahwa terdapat tiga jenis utama ketunarunguan menurut lokasi ganguannya:
  1. Conductive loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat gangguan pada bagian luar atau tengah telinga yang menghambat dihantarkannya gelombang bunyi ke bagian dalam telinga.
  2. Sensorineural loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat kerusakan pada bagian dalam telinga atau syaraf auditer yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak. (Ketunarunguan Andi tampaknya termasuk ke dalam kategori ini.
  3. Central auditory processing disorder, yaitu gangguan pada sistem syaraf pusat proses auditer yang mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinganya itu sendiri. Anak yang mengalami gangguan pusat pemerosesan auditer ini mungkin memiliki pendengaran yang normal bila diukur dengan audiometer, tetapi mereka sering mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya.
Berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi, Ashman dan Elkins (1994) mengklasifikasikan ketunarunguan ke dalam empat kategori, yaitu:
  1. Ketunarunguan ringan (mild hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 20-40 dB (desibel). Mereka sering tidak menyadari bahwa sedang diajak bicara, mengalami sedikit kesulitan dalam percakapan.
  2. Ketunarunguan sedang (moderate hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 dB. Mereka mengalami kesulitan dalam percakapan tanpa memperhatikan wajah pembicara, sulit mendengar dari kejauhan atau dalam suasana gaduh, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar (hearing aid).
  3. Ketunarunguan berat (severe hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 65-95 dB. Mereka sedikit memahami percakapan pembicara bila memperhatikan wajah pembicara dengan suara keras, tetapi percakapan normal praktis tidak mungkin dilakukannya, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar.
  4. Ketunarunguan berat sekali (profound hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 95 dB atau lebih keras. Mendengar percakapan normal tidak mungkin baginya, sehingga dia sangat tergantung pada komunikasi visual. Sejauh tertentu, ada yang dapat terbantu dengan alat bantu dengar tertentu dengan kekuatan yang sangat tinggi (superpower).
Survey tahun 1981 di Australia menemukan bahwa 59% dari populasi tunarungu menyandang ketunarunguan ringan, 11% sedang, 20% berat, dan 10% tidak dapat dipastikan (Cameron, 1982, dalam Ashman dan Elkins, 1994).
Perlu dijelaskan bahwa decibel (disingkat dB) adalah satuan ukuran intensitas bunyi. Istilah ini diambil dari nama pencipta telepon, Graham Bel, yang istrinya tunarungu, dan dia tertarik pada bidang ketunarunguan dan pendidikan bagi tunarungu. Satu decibel adalah 0,1 Bel.
Bagi para fisikawan, decibel merupakan ukuran tekanan bunyi, yaitu tekanan yang didesakkan oleh suatu gelombang bunyi yang melintasi udara. Dalam fisika, 0 db sama dengan tingkat tekanan yang mengakibatkan gerakan molekul udara dalam keadaan udara diam, yang hanya dapat terdeteksi dengan menggunakan instrumen fisika, dan tidak akan terdengar oleh telinga manusia. Oleh karena itu, di dalam audiologi ditetapkan tingkat 0 yang berbeda, yang disebut 0 dB klinis atau 0 audiometrik. Nol inilah yang tertera dalam audiogram, yang merupakan grafik tingkat ketunarunguan. Nol audiometrik adalah tingkat intensitas bunyi terendah yang dapat terdeteksi oleh telinga orang rata-rata dengan telinga yang sehat pada frekuensi 1000 Hz (Ashman & Elkins, 1994).
Metode dan Pendekatan Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
Perdebatan tentang cara terbaik untuk mengajar anak tunarungu berkomunikasi telah marak sejak awal abad ke-16 (Winefield, 1987). Perdebatan ini masih berlangsung, tetapi kini semakin banyak ahli yang berpendapat bahwa tidak ada satu sistem komunikasi yang baik untuk semua anak (Easterbrooks, 1997). Pilihan sistem komunikasi harus ditetapkan atas dasar individual, dengan mempertimbangkan karakteristik anak, sumber-sumber yang tersedia, dan komitmen keluarga anak terhadap metode komunikasi tertentu.
Metode Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
Terdapat tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa, yaitu dengan membaca ujaran, melalui pendengaran, dan dengan komunikasi manual, atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut.
1)   Belajar Bahasa Melalui Membaca Ujaran (Speechreading)
Orang dapat memahami pembicaraan orang lain dengan “membaca” ujarannya melalui gerakan bibirnya. Akan tetapi, hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir (Berger, 1972). Di antara 50% lainnya, sebagian dibuat di belakang bibir yang tertutup atau jauh di bagian belakang mulut sehingga tidak kelihatan, atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembaca bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa. Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat mengenai bunyi-bunyi yang “tersembunyi” itu. Jadi, orang tunarungu yang bahasanya normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu prabahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non-tunarungu tanpa latihan dapat membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus bergantung pada cara ini (Ashman & Elkins, 1994).
Kelemahan sistem baca ujaran ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi membaca ujaran (speechreading).
Delapan bentuk tangan yang menggambarkan kelompok-kelompok konsonan diletakkan pada empat posisi di sekitar wajah yang menunjukkan kelompok-kelompok bunyi vokal. Digabungkan dengan gerakan alami bibir pada saat berbicara, isyarat-isyarat ini membuat bahasa lisan menjadi lebih tampak (Caldwell, 1997). Cued Speech dikembangkan oleh R. Orin Cornett, Ph.D. di Gallaudet University pada tahun 1965 66. Isyarat ini dikembangkan sebagai respon terhadap laporan penelitian pemerintah federal AS yang tidak puas dengan tingkat melek huruf di kalangan tunarungu lulusan sekolah menengah. Tujuan dari pengembangan komunikasi isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Cued Speech telah diadaptasikan ke sekitar 60 bahasa dan dialek. Keuntungan dari sistem isyarat ini adalah mudah dipelajari (hanya dalam waktu 18 jam), dapat dipergunakan untuk mengisyaratkan segala macam kata (termasuk kata-kata prokem) maupun bunyi-bunyi non-bahasa. Anak tunarungu yang tumbuh dengan menggunakan cued speech ini mampu membaca dan menulis setara dengan teman-teman sekelasnya yang non-tunarungu (Wandel, 1989 dalam Caldwell, 1997).
2)   Belajar Bahasa Melalui Pendengaran
Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa individu tunarungu dari semua tingkat ketunarunguan dapat memperoleh manfaat dari alat bantu dengar tertentu. Alat bantu dengar yang telah terbukti efektif bagi jenis ketunarunguan sensorineural dengan tingkat yang berat sekali adalah cochlear implant. Cochlear implant adalah prostesis alat pendengaran yang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen eksternal (mikropon dan speech processor) yang dipakai oleh pengguna, dan komponen internal (rangkaian elektroda yang melalui pembedahan dimasukkan ke dalam cochlea (ujung organ pendengaran) di telinga bagian dalam. Komponen eksternal dan internal tersebut dihubungkan secara elektrik. Prostesis cochlear implant dirancang untuk menciptakan rangsangan pendengaran dengan langsung memberikan stimulasi elektrik pada syaraf pendengaran (Laughton, 1997).
Akan tetapi, meskipun dalam lingkungan auditer terbaik, jumlah bunyi ujaran yang dapat dikenali secara cukup baik oleh orang dengan klasifikasi ketunarunguan berat untuk memungkinkannya memperoleh gambaran yang lengkap tentang struktur sintaksis dan fonologi bahasa itu terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa penyandang ketunarunguan yang berat sekali tidak dapat memperoleh manfaat dari bunyi yang diamplifikasi dengan alat bantu dengar. Yang menjadi masalah besar dalam hal ini adalah bahwa individu tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang dipergunakannya. Di samping itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibat kehabisan batrai dan earmould yang tidak cocok.
3)   Belajar Bahasa secara Manual
Secara alami, individu tunarungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau bahasa isyarat. Untuk tujuan universalitas, berbagai negara telah mengembangkan bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa komunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang eksklusif.
Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
Pengajaran bahasa secara terprogram bagi anak tunarungu harus dimulai sedini mungkin bila kita mengharapkan tingkat keberhasilan yang optimal. Terdapat dua pendekatan dalam pengajaran bahasa kepada anak tunarungu secara dini, yaitu pendekatan auditori-verbal dan auditori-oral.
Pendekatan Auditori verbal
Pendekatan auditori-verbal bertujuan agar anak tunarungu tumbuh dalam lingkungan hidup dan belajar yang memungkinkanya menjadi warga yang mandiri, partisipatif dan kontributif dalam masyarakat inklusif. Falsafah auditori-verbal mendukung hak azazi manusia yang mendasar bahwa anak penyandang semua tingkat ketunarunguan berhak atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan menggunakan komunikasi verbal di dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Pendekatan auditori verbal didasarkan atas prinsip mendasar bahwa penggunaan amplifikasi memungkinkan anak belajar mendengarkan, memproses bahasa verbal, dan berbicara. Opsi auditori verbal merupakan strategi intervensi dini, bukan prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam pengajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk mengajarkan prinsip-prinsip auditori verbal kepada orang tua yang mempunyai bayi tunarungu (Goldberg, 1997).
Prinsip-prinsip praktek auditori verbal itu adalah sebagai berikut:
  • Berusaha sedini mungkin mengidentifikasi ketunarunguan pada anak, idealnya di klinik perawatan bayi.
  • Memberikan perlakuan medis terbaik dan teknologi amplifikasi bunyi kepada anak tunarungu sedini mungkin.
  • Membantu anak memahami makna setiap bunyi yang didengarnya, dan mengajari orang tuanya cara membuat agar setiap bunyi bermakna bagi anaknya sepanjang hari.
  • Membantu anak belajar merespon dan menggunakan bunyi sebagaimana yang dilakukan oleh anak yang berpendengaran normal.
  • Menggunakan orang tua anak sebagai model utama untuk belajar ujaran dan komunikasi lisan.
  • Berusaha membantu anak mengembangkan sistem auditori dalam (inner auditory system) sehingga dia menyadari suaranya sendiri dan akan berusaha mencocokkan apa yang diucapkannnya dengan apa yang didengarnya.
  • Memahami bagaimana anak yang berpendengaran normal mengembangkan kesadaran bunyi, pendengaran, bahasa, dan pemahaman, dan menggunakan pengetahuan ini untuk membantu anak tunarungu mempelajari keterampilan baru.
  • Mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak dalam semua bidang.
  • Mengubah program latihan bagi anak bila muncul kebutuhan baru.
  • Membantu anak tunarungu berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan maupun sosial bersama-sama dengan anak-anak yang berpendengaran normal dengan memberikan dukungan kepadanya di kelas reguler.
Hasil penelitian terhadap sejumlah tamatan program auditori verbal di Amerika Serikat dan Kanada (Goldberg & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997) menunjukkan bahwa mayoritas responden terintegrasi ke dalam lingkungan belajar dan lingkungan hidup “reguler”. Kebanyakan dari mereka bersekolah di sekolah biasa di dalam lingkungannya, masuk ke lembaga pendidikan pasca sekolah menengah yang tidak dirancang khusus bagi tunarungu, dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Di samping itu, keterampilan membacanya setara atau lebih baik daripada anak-anak berpendengaran normal (Robertson & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997).
Pendekatan Auditori Oral
Pendekatan auditori oral didasarkan atas premis mendasar bahwa memperoleh kompetensi dalam bahasa lisan, baik secara reseptif maupun ekspresif, merupakan tujuan yang realistis bagi anak tunarungu. Kemampuan ini akan berkembang dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan di mana bahasa lisan dipergunakan secara eksklusif. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan rumah dan sekolah (Stone, 1997).
Elemen-elemen pendekatan auditori oral yang sangat penting untuk menjamin keberhasilannya mencakup:
  • Keterlibatan orang tua. Untuk memperoleh bahasa dan ujaran yang efektif menuntut peran aktif orang tua dalam pendidikan bagi anaknya.
  • Upaya intervensi dini yang berfokus pada pendidikan bagi orang tua untuk menjadi partner komunikasi yang efektif.
  • Upaya-upaya di dalam kelas untuk mendukung keterlibatan anak tunarungu dalam kegiatan kelas.
  • Amplifikasi yang tepat. Alat bantu dengar merupakan pilihan utama, tetapi bila tidak efektif, penggunaan cochlear implant merupakan opsi yang memungkinkan.
Mengajari anak mengunakan sisa pendengaran yang masih dimilikinya untuk mengembangkan perolehan bahasa lisan merupakan hal yang mendasar bagi pendekatan auditori oral. Meskipun dimulai sebelum anak masuk sekolah, intervensi oral berlanjut di kelas. Anak diajari keterampilan mendengarkan yang terdiri dari empat tingkatan, yaitu deteksi, diskriminasi, identifikasi, dan pemahaman bunyi. Karena tujuan pengembangan keterampilan mendengarkan itu adalah untuk mengembangkan kompetensi bahasa lisan, maka bunyi ujaran (speech sounds) merupakan stimulus utama yang dipergunakan dalam kegiatan latihan mendengarkan itu. Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik (mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat). Pengajaran bahasa dilaksanakan secara naturalistik dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada diri anak, tidak dalam setting didaktik. Pada masa prasekolah, pengajaran bagi anak dan pengasuhnya dilakukan secara individual, tetapi pada masa sekolah pengajaran dilaksanakan dalam setting kelas inklusif atau dalam kelas khusus bagi tunarungu di sekolah reguler. Setting pengajaran ini tergantung pada keterampilan sosial, komunikasi dan belajar anak.
Keuntungan utama pendekatan auditori-oral ini adalah bahwa anak mampu berkomunikasi secara langsung dengan berbagai macam individu, yang pada gilirannya dapat memberi anak berbagai kemungkinan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Geers dan Moog (1989 dalam Stone, 1997) melaporkan bahwa 88% dari 100 siswa tunarungu usia 16 dan 17 tahun yang ditelitinya memiliki kecakapan berbahasa lisan dan memiliki tingkat keterpahaman ujaran yang tinggi. Kemampuan rata-rata membacanya adalah pada tingkatan usia 13 hingga 14 tahun, yang hampir dua kali lipat rata-rata kemampuan baca seluruh populasi anak tunarungu di Amerika Serikat.






2
JASSI_anakku Volume 7 Nomor 1 Juni 2007 hlm 101-110
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA DAN
BERBICARA ANAK TUNARUNGU
Tati Hernawati
Jurusan PLB FIP
Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK
Tulisan ini memberikan gambaran mengenai salah satu kebutuhan khusus
anak tunarungu, yaitu pengembangan kemampuan berbahasa dan berbicara yang
merupakan suatu kesatuan dalam berkomunikasi. Kemampuan berbahasa dalam
arti memiliki pemahaman bahasa (bahasa reseptif) terlebih dahulu harus
dikembangkan sebelum mengembangkan kemampuan bicara yang merupakan
salah satu media untuk menyampaikan pesan dalam wujud bahasa lisan (bahasa
ekspresif). Oleh karena itu, dalam tulisan ini dibahasa terlebih dahulu bagaimana
pengembangan bahasa anak tunarungu, kemudian bagaimana pengembangan
kemampuan bicaranya.
Kata kunci: pengembangan. kemampuan berbahasa-berbicara. anak tunarungu.
PENDAHULUAN
Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pada organ
pendengarannya sehingga mengakibatkan ketidakmampuan mendengar, mulai dari
tingkatan yang ringan sampai yang berat sekali yang diklasifikasikan kedalam tuli (deaf)
dan kurang dengar (hard of hearing). Hallahan & Kauffman (1991:266) dan Hardman, et
al (1990:276) mengemukakan bahwa orang yang tuli (a deaf person) adalah orang yang
mengalami ketidakmampuan mendengar, sehingga mengalami hambatan dalam
memproses informasi bahasa melalui pendengarannya dengan atau tanpa menggunakan
alat bantu dengar (hearing aid). Sedangkan orang yang kurang dengar (a hard of hearing
person) adalah seseorang yang biasanya menggunakan alat bantu dengar, sisa
pendengarannya cukup memungkinkan untuk keberhasilan memproses informasi bahasa,
artinya apabila orang yang kurang dengar tersebut menggunakan hearing aid, ia masih
dapat menangkap pembicaraan malalui pendengarannya.
Gangguan pada organ pendengaran bias terjadi pada telinga luar, tengah, maupun bagian
dalam. Letak gangguan secara anatomis tersebut mengklasifikasikan tunarungu menjadi
2
tipe konduktif, sensorineural, dan campuran. Tunarungu tipe konduktif diakibatkan
adanya gangguan pada telinga luar dan tengah, sedangkan tunarungu sensorineural
diakibatkan gangguan pada telinga bagian dalam serta syaraf pendengaran. Adapun
tunarungu campuran merupakan perpaduan antara tipe konduktif dan sensorineural.
Ketunarunguan dapat terjadi pada masa prabahasa dan pasca bahasa. Ketunarunguan
prabahasa (prelingual deafness), merupakan kehilangan pendengaran yang terjadi
sebelum kemampuan bicara dan bahasa berkembang, sedangkan ketunarunguan pasca
bahasa (post lingual deafness), merupakan kehilangan pendengaran yang terjadi setelah
berkembangnya kemampuan bicara dan bahasa secara spontan (Kirk & Gallagher, 1989:
301-302).
Dampak langsung dari ketunarunguan adalah terhambatnya komunikasi
verbal/lisan, baik secara ekspresif (berbicara) maupun reseptif (memahami pembicaraan
orang lain), sehingga sulit berkomunikasi dengan lingkungan orang mendengar yang
lazim menggunakan bahasa verbal sebagai alat komunikasi. Hambatan dalam
berkomunikasi tersebut, berakibat juga pada hambatan dalam proses pendidikan dan
pembelajaran anak tunarungu. Namun demikian anak tunarungu memiliki potensi untuk
belajar berbicara dan berbahasa. Oleh karena itu anak tungarungu memerlukan layanan
khusus untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan berbicara, sehingga dapat
meminimalisi dampak dari ketunarunguan yang dialaminya. Bagaimana mengembangkan
kemampuan berbahasa dan berbicara anak tunarungu? Inilah yang menjadi bahasan
dalam artikel ini.
PEMBAHASAN
Ketunarunguan bukan hanya mengakibatkan tidak berkembangnya kemampuan
berbicara, lebih dari itu dampak paling besar adalah terbatasnya kemampuan berbahasa
(Van Uden, 1977; Meadow, 1980). Leigh (1994; dalam bunawan, 2004) mengemukakan
bahwa masalah utama kaum tunarungu bukan terletak pada tidak dikuasainya suatu
sarana komunikasi lisan, melainkan akibat hal tersebut terhadap perkembangan
kemampuan berbahasanya secara keseluruhan yaitu mereka tidak atau kurang mampu
dalam memahami lambang dan aturan bahasa. Secara lebih spesifik, mereka tidak
mengenal atau mengerti lambang/kode atau ‘nama’ yang digunakan lingkungan guna
2
mewakili benda-benda, peristiwa kegiatan, dan perasaan serta tidak memahami
aturan/sistem/tata bahasa. Keadaan ini terutama dialami anak tunarungu yang mengalami
ketulian sejak lahir atau usia dini (tuli prabahasa).
Terhambatnya kemampuan berbahasa yang dialami anak tunarungu, berimplikasi pada
kebutuhan khusus mereka untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dengan metode
khusus, yang merupakan dasarnya setiap anak tunarungu dapat dikembangkan
kemampuan berbahasa dan berbicaranya melalui berbagai layanan khusus dan fasilitas
khusus yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pengembangan Berbahasa Anak Tunarungu
Dalam mengembangkan kemampuan berbahasa pada anak tunarungu, kita perlu
memahami perolehan bahasa yang terjadi pada anak mendengar dan juga yang terjadi
pada anak tunarungu. Myklebust (1963; dalam Bunawan & Yuwati, 2000)
mengemukakan bahwa pemerolehan bahasa anak yang mendengar berawal dari adanya
pengalaman atau situasi bersama antara bayi dan ibunya atau orang lain yang berarti
dalam lingkungan terdekatnya. Melalui pengalaman tersebut, anak ‘belajar’
menghubungkan pengalaman dan lambang bahasa yang diperoleh melalui
pendengarannya. Proses ini merupakan dasar berkembangnya bahasa batini (inner
language). Setelah itu, anak mulai memahami hubungan antara lambang bahasa dengan
benda atau kejadian yang dialaminya sehingga terbentuklah bahasa reseptif anak. Dengan
kata lain anak memahami bicara lingkungannya (bahasa reseptif auditori). Setelah bahasa
reseptif auditori ‘agak’ terbentuk, anak mulai mengungkapkan diri melalui kata-kata
sebagai awal kemampuan bahasa ekspretif auditoria tau berbicara, meskipun pada
dasarnya perkembangan kea rah bicara muncul lebih dini lagi, yaitu dengan adanya masa
meraban. Kemampuan itu semua berkembang melalui pendengarannya (auditori). Setelah
anak memasuki usia sekolah, penglihatannya berperan dalam perkembangan bahasa
melalui kemampuan membaca (bahasa reseptif visual) dan menulis (bahasa ekspresif
visual).
Berdasarkan proses pemerolehan bahasa pada anak mendengar, Myklebust (1963)
mengembangkan pola tersebut pada anak tunarungu. Ia menerapkan pencapaian perilaku
2
berbahasa yang telah dijelaskan diatas pada anak tunarungu. Berhubung pada masa itu
teknologi pendengaran belum berkembang, maka anak tunarungu dipandang tidak/kurang
memungkinkan memperoleh bahasa melalui visual atau taktil kinestetik, atau kombinasi
keduanya. Dengan demikian tersedia tiga alternative, yaitu: isyarat, membaca, dan
membaca ujaran. Myklebust menganggap media membaca ujaran merupakan pilihan
yang tepat disbanding isyarat dan membaca. Dengan kemajuan teknologi pendengaran
saat ini, maka sisa pendengarannya dapat dioptimalkan untuk menstimulasi anak
tunarungu dalam perolehan bahasa.
Apabila membaca ujaran menjadi dasar pengembangan bahasa batini anak
tunarungu, kita dapat melatih anak tunarungu untuk menghubungkan pengalaman yang
diperolehnya dengan gerak bibir dan mimik pembicara. Bagi anak kurang dengar yang
menggunakan alat bantu dengar, dapat menghubungkannya dengan lambang bunyi
bahasa (lambang auditori). Setelah itu, anak tunarungu mulai memahami hubungan antara
lambang bahasa (visual & auditori) dengan benda atau kejadian sehari-hari, sehingga
terbentuklah bahasa reseptif visual/auditori. Sama halnya seperti anak mendengar,
kemampuan bahasa ekspresif (bicara) baru dapat dikembangkan setelah memiliki
kemampuan bahasa reseptif. Selanjutnya anak tunarungu dapat mengembangkan
kemampuan bahasa reseptif visual (membaca) dan bahasa ekspresif visual (menulis).
Demikian perilaku bahasa verbal yang dapat terjadi pada anak tunarungu.
Pada umumnya, anak tunarungu memasuki sekolah tanpa/kurang memiliki
kemampuan berbahasa verbal, berbeda dengan anak mendengar yang memasuki sekolah
setelah memperoleh bahasa. Oleh karena itu, dalam pendidikan anak tunarungu, proses
pemerolehan bahasa anak tunarungu diberikan di sekolah melalui layanan khusus.
Layanan pemerolehan bahasa tersebut menekankan pada percakapan, seperti halnya
percakapan yang terjadi antara anak mendengar dengan ibunya/orang terdekatnya dalam
pemerolehan bahasa, dengan memperhatikan sensori yang dapat diberikan stimulasi.
Percakapan merupakan kunci perkembangan bahasa anak tunarungu (Hollingshead,
1982). Oleh karena itu, tugas guru SLB/B adalah mengantarkan anak tunarungu dari
masa prabahasa menuju purnabahasa melalui percakapan dan bersifat alamiah.
Berkaitan dengan hal tersebut, Van Uden telah mengembangkan metode pengembangan
bahasa melalui percakapan, yang dikenal dengan Metode Maternal Reflektif (MMR).
2
Metode ini memiliki ciri bahwa percakapan itu terkait dengan kegiatan melakukan
sesuatu bersama antara ibu atau orang lain dengan anak (bersifat alamiah), serta
menerapkap metode tangkap dan peran ganda. Metode tangkap dan peran ganda
maksudnya adalah bahwa ibu atau orang lain menangkap ungkapan anak, kemudian
membahasakannya serta menanggapi ungkapan tersebut, sehingga tercipta suatu
percakapan.
Pengembangan Kemampuan Bicara Anak Tunarungu
Pengembangan kemampuan berbicara merupakan serangkaian upaya agar anak
memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk mengekspresikan pikiran, gagasan,
dan perasaanya dengan cara berbicara. Nugroho (2004) mengemukakan bahwa layanan
bina-bicara memiliki tiga macam tujuan, yaitu:
Di bidang pengetahuan, agar anak memiliki pengetahuan tentang: a) cara mengucapkan
seluruh bunyi bahasa Indonesia; b) cara mengucapkan kata, kelompok kata dan kalimat
Bahasa Indonesia; c) mengevaluasi bicaranya sendiri, berdasarkan pengamatan visual,
auditif, dan kinestetik; d) mengendalikan alat ucapnya untuk peningkatan kualitas bicara;
serta e) pemilihan kata dan kelompok kata yang tepat.
Di bidang keterampilan, agar anak terampil: a) mengucapkan bunyi-bunyi bahasa
Indonesia; b) mengucapkan kata, kelompok kata, dan kalimat bahasa Indonesia; c)
mengevaluasi bicaranya sendiri berdasarkan pengamatan visual, auditif, dan kinestetik; d)
mengendalikan alat ucapnya demi perbaikan dan peningkatan mutu bicaranya; dan e)
menggunakan kata-kata, kelompok kata, dan kalimat sesuai dengan gagasan dan tata
bahasa yang baik dan benar.
Di bidang sikap, agar anak memiliki: a) senang menggunakan cara bicara dalam
mengadakan komunikasi dengan orang lain; b) senang mengadakan evaluasi dan
memperbaiki kesalahan-kesalahan serta berusaha meningkatkan kemampuannya.
Tujuan akhir bina-bicara bagi anak tunarungu, adalah agar ia memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan sikap dasar untuk: a) berkomunikasi di masyarakat; b) bekerja dan
beritegrasi dalam kehidupan masyarakat; serta c) berkembang sesuai dengan asas
pendidikan seumur hidup.
2
Dalam pelaksanaanya, layanan bina bicara, meliputi:
Pertama, latihan prabicara: latihan keterarahwajahan, keterarahsuaraan, dan pelemasan
organ bicara.
Kedua, latihan pernafasan, misalnya meniup dengan hembusan, meniup dengan letupan,
menghirup serta menghembuskan nafas melalui hidung.
Ketiga, latihan pembentukan suara: menyadarkan anak untuk bersuara, merasakan
getaran, menirukan ucapan guru sambil merasakan getaran, melafalkan vokal bersuara,
serta meraban sambil mersakan getaran.
Keempat, pembentukan fonem.
Kelima, penggemblengan, pembetulan, serta penyadaran irama/aksen.
Keenam, pengembangan.
Lebih lanjut, Nugroho (2004) mengemukakan bahwa materi yang diajarkan dalam
layanan bina bicara, meliputi: meteri fonologik (fonem segmental dan suprasegmental);
materi morfologik (kata dasar, kata jadian, kata ulang dan kata majemuk); materi
sintaksis (kalimat berita, ajakan, perintah, larangan dan kalimat tanya); serta materi
sistematik.
Dalam pengembangan bicara anak tunarungu, ada beberapa metode yang
didasarkan pada beberapa hal, yaitu:
Pertama, berdasarkan cara menyajikan materi, metode yang dapat digunakan adalah:
a. Metode global berdiferensisasi.
Metode ini, disamping didasarkan pada cara menyajikan materi, juga didasarkan pada
perimbangan kebahasaan. Bahasa pertama-tama nampak dalam ujaran secara totalitas.
Oleh karena itu dalam mengajar atau melatih anak berbicara, dimulai dengan ujaran
secara utuh (global), baru kemudian menuju ke pembentukan fonem-fonem sebagai
satuan bahasa yang terkecil.
b. metode analisis sintetis.
Metode ini merupakan kebalikan dari metode global diferensiasi. Penyajian materi
dilakukan mulai dari satuan bahasa terkecil (fonem) menuju kata dan kalimat.
Kedua, berdasarkan modalitas yang dimiliki anak tunarungu, kita dapat menggunakan
metode:
2
a. Metode multisensori, yaitu menggunakan seluruh sensori untuk memperoleh
kesan bicara, seperti: penglihatan, pendengaran, perabaan (taktil), serta kinestetik.
b. Metode suara, yang saat ini lebih dikenal dengan metode auditori verbal, yaitu
metode pengajaran bicara yang lebih mengutamakan pada pemanfaatan sisa
pendengaran dengan menggunakan sistem amplifikasi pendengaran.
Ketiga, berdasarkan fonetika, metode yang dapat digunakan dalam pengajaran bicara,
adalah:
a. Metode yang bertitik tolak pada fonetik, yaitu didasarkan pada mudah sukarnya
bunyi-bunyi menurut ilmu fonetik, dan dianggap sama bagi semua anak. Bunyi
bahasa yang diajarkan dimulai dari deretan bunyi paling depan/muka di mulut,
karena bunyi-bunyi tersebut paling mudah dilihat dan ditiru, yaitu kelompok
konsonan bilabial (p, b, m dan w). Setelah konsonan bilabial dikuasai, dilanjutkan
pada konsonan dental (l, r, t, d dan n), kemudian konsonan velar (k,g dan ng), dan
selanjutnya konsonan palatal (c, j, ny, y dan s).
b. Metode tangkap dan peran ganda, yaitu metode yang menuntut kepekaan guru
menangkap fonem yang diucapkan anak secara spontan, yang merupakan titik
tolak untuk dikembangkan kedalam kata, kelompok kata, dan kalimat. Metode ini
didasarkan pada fonem yang paling mudah bagi tiap-tiap anak (prinsip
individualitas).
Untuk keefektifan pelaksaan pelatihan bicara anak tunarungu, dibutuhkan berbagai
sarana dan prasarana, antara lain:
a) Alat-alat stimulasi visual: cermin, gambar-gambar, kartu identifikasi, pias kata
dan sebagainya.
b) Alat-alat stimulasi auditoris: speech trainer, alat bantu dengar baik klasikal
maupun individual dan sebagainya.
c) Alat-alat untuk stimulasi vibrasi: vibrator dan sikat getar.
d) Alat-alat latihan pernafasan: lilin, kapas, minyak kayu putih, gelembung air sabun,
peluit, terompet, harmonika, saluran kayu dengan bola pingpong dan sebagainya.
e) Alat-alat untuk pelemasan organ bicara: permen bertangkai, madu dan sebagainya.
Layanan bina bicara dapat diberikan kepada anak tunarungu secara individual maupun
klasikal. Layanan secara individual diberikan di ruang khusus (ruang bina bicara), dengan
2
lama latihan antara 20-25 menit setiap kali pertemuan. Layanan bina bicara secara
klasikal diadakan menjelang percakapan dari hati ke hati melalui latihan mendengar dan
bicara secara terpadu. Disamping kedua pendekatan tersebut, bina bicara dapat diberikan
secara nonformal, yang artinya layanan bicara berupa pembetulan ucapan yang salah
(speech correction) diberikan kapan saja, demana saja, kepada siapa saja dan oleh siapa saja.



Meningkatkan Kemampuan Percakapan Bahasa Inggris dengan Model Make a Match pada Siswa Tunarungu Wicara dan Tunagrahita Kelas VII SMPLB
Endah Dwi Hastuti
SLB Hamong Putro Sukoharjo

ABSTRAK

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan meningkatkan kemampuan siswa tunarungu wicara dan tunagrahita kelas VII SMPLB dalam percakapan Bahasa Inggris. Ada beberapa faktor yang dianggap sebagai penyebab rendahnya kemampuan siswa dalam percakapan bahasa Inggris, seperti tidak tertarik atau kurang senang karena pembelajarannya monoton dan pasif. Penelitian ini dilakukan melalui penerapan model pembelajaran “Make a Match” berdasar pada situasi yang nyata dengan menggunakan media visual aids berupa benda nyata, kartu gambar dan kartu kata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kuantitatif pada siklus pertama cukup baik dengan rata-rata 5,38 atau 67,25% dan siklus kedua adalah baik dengan rata-rata 7,0 atau 87,5%. Artinya, dari siklus pertama ke siklus kedua, ada perbaikan sebesar 0,75 atau 20,25%. Secara kualitatif, respon siswa pada model pembelajaran ini positif, yaitu membuat siswa lebih aktif dan lebih senang dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran “Make a match” ini mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa percakapan dan pada akhirnya mampu meningkatkan nilai pada masing-masing siswa.
Kata kunci: Tunarungu, tunagrahita, SMPLB, percakapan Bahasa Inggris, make a match,

PENDAHULUAN


Bagi siswa SMPLB, Bahasa Inggris merupakan merupakan materi baru, sehingga memerlukan kemampuan khusus untuk dapat memahaminya dengan baik. Apalagi bagi siswa tunarungu wicara (B) dan siswa tunagrahita (C) atau sering dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK).
Salah satu standar kompetensi yang harus diajarkan pada siswa tunarungu dan tunagrahita di SMPLB adalah berbicara (speaking) dan di dalamnya terdapat kompetensi dasar percakapan transaksional/ interpersonal sangat sederhana dengan melibatkan berbagai tindak tutur. Keterbatasan kemampuan anak tunarungu dan tunagrahita menyebabkan mereka kurang mampu dalam percakapan, apalagi kalau guru menyampaikan materi dengan metode yang monoton, kurang menarik, tidak melibatkan seluruh siswa dan tanpa media pendidikan yang dapat mempermudah dan memperjelas materi. Tujuan utama pembelajaran Bahasa Inggris adalah agar siswa berlaku aktif dan mampu memahami materi tersebut sebagaimana yang telah digariskan dalam kurikulum.
Memperhatikan realita diatas, perlu adanya solusi untuk dapat meningkatkan kemampuan percakapan Bahasa Inggris, sehingga siswa lebih mudah memahami konsep–konsep yang terkandung didalamnya, melibatkan seluruh siswa untuk ikut aktif tanpa mengesampingkan ketepatan, kemanfaatan dan kesesuaian metode yang digunakan dengan materi yang dibahas dengan menambah variasi model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa sebagai alternatif pilihan bagi pemecahan masalah tersebut.
Sesuai Standar Isi tahun 2006 pembelajaran Bahasa Inggris terdiri dari 4 (empat) standar kompetensi yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat standar kompetensi tersebut harus diajarkan agar siswa mampu menguasai materi sesuai yang diharapkan.
Terutama untuk standar kompetensi berbicara (speaking), yaitu mengungkapkan makna dalam teks percakapan transaksional/interpersonal lisan dan/atau isyarat sangat sederhana untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat. Adapun kompetensi dasarnya yaitu menggunakan makna dalam ragam bahasa lisan terutama dalam percakapan transaksional/ interpersonal sangat sederhana dan berterima yang melibatkan tindak tutur: menyapa yang belum/sudah dikenal, memperkenalkan diri sendiri/orang lain, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, memerintah atau melarang, meminta dan memberi informasi, mengungkapkan kesantunan.
Bagi siswa tunarungu dan tunagrahita, pencapaian kompetensi dasar di atas tentu tidak mudah, sehingga diperlukan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan siswa dengan media tertentu sehingga tanpa terasa siswa dapat melakukan percakapan dengan Bahasa Inggris. Salah satu model pembelajaran yang dipandang sesuai untuk pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa tunarungu maupun tunagrahita di SMPLB adalah model Make a match. Dalam bahasa Indonesia model ini disebut model pembelajaran mencari pasangan. Menurut Lorna Curran, (LPMP, 2008:13) dalam model pembelajaran make a match langkah-langkahnya, yaitu: 1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaiknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban, 2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu, 3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang, 4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban), 5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin, 6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, 7. Demikian seterusnya, 8. Kesimpulan/penutup.
Berdasarkan model pembelajaran di atas, pada penelitian ini guru menyiapkan kartu-kartu baik kartu gambar maupun kartu kata dan bisa juga berwujud benda nyata yang ada di sekitar kelas, misalnya buku, bolpen, penghapus, papan tulis, penggaris, tas, payung, gunting, bola, sepeda dan lain-lain. Benda nyata, kartu gambar maupun kartu kata yang disiapkan guru merupakan materi yang harus sesuai dengan sesi review pada saat pembelajaran tersebut. Benda nyata, kartu gambar maupun kartu kata yang disiapkan guru dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama untuk kartu soal dan bagian kedua untuk kartu jawaban.
Setiap siswa diberi satu kartu, pada saat permainan kartu yang dipegang dapat berupa kartu soal maupun kartu jawaban. Untuk memandu, kartu soal pada awal kegiatan dipegang guru dan seluruh siswa memegang kartu jawaban tetapi hanya ada satu jawaban yang benar. Bagi siswa yang memegang kartu jawaban benar maka harus lari mendekati pasangan yang memegang kartu soal (baik itu guru maupun siswa) kemudian harus membacanya terlebih dahulu bila sudah hafal/lancar maka pasangan yang membawa kartu soal dan kartu jawaban melakukan percakapan seperti pada kartu yang dipegang masing-masing.
Setiap siswa yang dapat mencocok¬kan antara kartu soal dengan kartu jawaban, kemudian dapat melakukan percakapan seperti dalam kartu yang dipegang sebelum batas waktu habis, akan mendapat hadiah sebagai pengganti poin.
Dalam penelitian ini kartu gambar, kartu kata, dan benda nyata yang digunakan berfungsi sebagai media visual aids atau alat peraga yang diasumsikan dapat membantu para siswa dalam memahami materi Bahasa Inggris khususnya dalam berbicara percakapan Bahasa Inggris.
Dalam kaitannya dengan media visual aids banyak ahli pendidikan berpendapat bahwa visual aids adalah teknik pembelajaran dengan penggunaan alat bantu pandang yang berupa gambar, poster, diagram dan leaflet (Sudjana, 2001:83). Sedangkan Soedjono (1956:84) menyatakan bahwa alat peraga visual adalah alat peraga yang dapat dilihat. Pada waktu menerima peragaan, indera yang aktif adalah penglihatan (mata). Adapun alat peraga auditif visual adalah alat peraga yang dapat dilihat dan didengar. Pada waktu menerima peragaan, indera yang aktif adalah pendengaran dan penglihatan (telinga dan mata). Adapun Isbani dkk (1989:23) berpendapat bahwa media pendidikan audio visual aids adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Sementara itu Bobby de Porter (2000:67) mengatakan bahwa sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata. Jika anda menggunakan alat peraga dalam situasi belajar, akan terjadi hal yang menakjubkan. Bukan hanya mengawali proses belajar dengan cara merangsang modalitas visual, alat peraga juga secara harfiah menyalakan jalur syaraf seperti kembang api di malam lebaran. Beribu-ribu asosiasi tiba-tiba diluncurkan ke dalam kesadaran. Kaitan ini menyediakan konteks yang kaya untuk pembelajaran yang baru.
Digunakannya benda nyata, kartu gambar, kartu kata sebagai media visual aids dalam penelitian ini didasari oleh hasil penelitian Glenn Doman dan Janet Doman (2006) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan bantuan kartu kata yang berlanjut dengan kartu kalimat telah terbukti mampu merangsang anak-anak cedera otak, baik dalam kemampuan membaca maupun kemampuan lainnya. Dijelaskan dalam bukunya yang berjudul “What To Do About Your Brain-Injured Child” tentang seorang anak cedera otak berat berumur tiga tahun bernama Tomy yang divonis tidak akan pernah bisa berjalan atau berbicara, sehingga dia harus tinggal di lembaga perawatan seumur hidup, tetapi setelah menjalankan program intervensi dengan cara mengajarkan berbagai pengetahuan dengan menggunakan kartu kata, Tomy mengalami banyak kemajuan. Setelah enam puluh hari menjalankan program Tomy sudah dapat merangkak dengan tangan dan lututnya. Pada kunjungan ketiga Tomy sudah dapat mengucapkan dua kata pertamanya yaitu “Mama” dan “Papa”. Atas kegigihan orangtuanya pada usia empat tahun dua bulan Tomy sudah dapat membaca buku, dan pada kunjungan yang kesebelas Tomy sudah dapat membaca apa saja dengan lancar dengan tekanan dan nada suara yang tepat, serta dapat memahami maknanya. Semua itu dilakukan orangtuanya dengan menggunakan kartu kata. Kondisi ini menjadikan Tomy tidak perlu menghabiskan hidupnya di lembaga perawatan dan mampu belajar di sekolah khusus.
Hasil penelitian di atas, memperkuat harapan peneliti agar anak-anak tunarungu wicara dan anak tunagrahita dalam meningkatkan kemampuan percakapan Bahasa Inggris, mengingat kondisi fisik dan psikisnya tidak separah anak-anak cedera otak.


METODE


Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII anak tunarungu wicara (SMPLB B) dan anak tunagrahita (SMPLB C) di SLB B-C Hamong Putro Jombor Sukoharjo tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 8 anak, 4 siswa perempuan anak tunarungu wicara (SMPLB B) dan 4 siswa laki-laki anak tunagrahita (SMPLB C).
Dalam penelitian ini terdapat dua macam variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Model pembelajaran make a match merupakan variabel bebas dan meningkatnya kemampuan percakapan Bahasa Inggris merupakan variabel terikat.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu penelitian yang berbasis pada kelas. Dengan penelitian ini diperoleh manfaat berupa perbaikan praktis yang meliputi penanggulangan berbagai permasalahan belajar siswa dan kesulitan mengajar guru.
PTK ini dilaksanakan dalam bentuk proses berdaur 4 tahap sebagaimana yang ditulis Suharsimi Arikunto (2004:16) yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan dan (4) refleksi.
Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus, setelah pada siklus I dilakukan refleksi akan muncul pemasalahan baru sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang, pelaksanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang serta refleksi ulang.
Siklus I bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam percakapan Bahasa Inggris yang kemudian digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan tindakan pada siklus II, sedang siklus II bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam percakapan Bahasa Inggris setelah dilakukan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran berdasarkan hasil refleksi siklus I.
Teknik penggumpulan data dilakukan melalui tes dan nontes. Tes, digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan percakapan Bahasa Inggris setelah proses pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran make a match dengan menggunakan media visual aids yang berupa benda nyata, kartu gambar dan kartu kata. Tes dilakukan pada tiap siklus penelitian.
Pengumpulan data melalui nontes dilakukan melalui tiga teknik, yaitu observasi, wawancara dan jurnal.
Observasi digunakan untuk memperoleh gambaran tingkat kemampuan siswa dalam percakapan Bahasa Inggris dan perubahan tingkah laku yang menyertai pada saat proses pembelajaran diterapkan model pembelajaran make a match dengan menggunakan media visual aids yang berupa benda nyata, kartu gambar dan kartu kata sebagai media pendidikan atau alat peraga. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung proses dan hasil yang diperlukan untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya yang berupa langkah perbaikan agar lebih efektif dan efisien.
Wawancaradigunakan untuk mendapatkan data kualitatif berupa tanggapan maupun jawaban tentang kemampuan siswa dalam percakapan Bahasa Inggris dan perubahan tingkah laku yang menyertai setelah diterapkan model pembelajaran make a match dengan menggunakan media visual aids yang berupa benda nyata, kartu gambar dan kartu kata sebagai media pendidikan atau alat peraga melalui tanya jawab sepihak.
Jurnal berisi tentang catatan reflektif dan kritis tentang fenomena kelas yang berguna untuk mengetahui gejala yang muncul pada saat penerapan model pembelajaran make a match dengan menggunakan media visual aids yang berupa benda nyata, kartu gambar dan kartu kata sebagai media pendidikan atau alat peraga, baik tentang kemajuan maupun kemunduran siswa yang dapat digunakan untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya.
Teknik yang digunakan untuk menganalisa data adalah teknik deskriptif analitik:
1. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan persentase. Nilai yang diperoleh siswa dirata-rata untuk menemukan tingkat kemampuan percakapan Bahasa Inggris.
2. Data kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan jurnal, diolah dengan cara mengklasifikasikan berdasar aspek-aspek yang dijadikan fokus analisis.
Hasil analisis data kuantitatif dan kualitatif selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk mendeskripsikan keberhasilan penerapan model pembelajaran make a match dalam percakapan Bahasa Inggris dan perubahan tingkah laku yang menyertai.


HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Penelitian Siklus I
Hasil Tes
Setelah diadakan tes perbuatan tentang kemampuan percakapan Bahasa Inggris menggunakan model pembelajaran Make a match, diperoleh hasil:







Tabel 1
Skor persentaseTingkat Kemampuan Percakapan Bahasa Inggris pada Siklus I

No Kategori Skor Responden % Keterangan
1.
2.
3. Baik
Cukup
Kurang 7,0 – 8,0
4,0 – 6,9
0,0 – 3,9 4
3
1 50
37,5
12,2 Skor rata-rata:
5,38 (kategori cukup)
Jumlah 8 100


Berdasarkan tabel 2 di atas dapat diketahui bahwa tingkat kemampuan percakapan Bahasa Inggris siswa dengan model pembelajaran make a match menggunakan media visual aids adalah sebagai berikut: dari 8 siswa yang diteliti diketahui ada 4 siswa (50%) telah mencapai kategori baik, 3 siswa (37,5%) dengan kategori cukup, dan 1 siswa (12,5%) yang termasuk dalam kategori kurang. Dengan menerapkan cara perhitungan seperti yang telah diuraikan pada bagian teknik analisis data maka dapat diperoleh data skor rata-rata tingkat kemampuan percakapan Bahasa Inggris sebesar 5,38 atau termasuk dalam kategori cukup.
Hasil Nontes
Hasil nontes pada siklus I mencakup hasil yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan jurnal.
Hasil observasi pada siklus I menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa dalam percakapan Bahasa Inggris dengan model pembelajaran make a match menggunakan media visual aids, suasana kelas nampak hidup dan kondusif, 4 siswa atau 50% responden aktif mengikuti seluruh kegiatan dengan rasa senang tanpa dipaksa maupun dipandu guru, 2 siswa atau 25% responden mau bersikap aktif apabila dirangsang atau dipandu guru untuk melakukan percakapan, kemudian 2 siswa atau 25 % responden masih agak pasif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, tetapi kadang-kadang 2 siswa putra anak tunagrahita atau 25% responden tersebut terekam berbincang-bincang (bergurau) disaat guru menerangkan kepada siswa lain atau pada saat guru membagikan kartu kepada siswa lain dan kadang terekam ada 1 siswa putra anak tunagrahita (12,5%) bersembunyi di bawah meja karena mendapat pasangan siswa putri sehingga harus dirayu dulu.
Dari hasil wawancara yang ditujukan kepada 8 siswa diperoleh informasi 4 siswa putri atau 50% responden menyatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris dalam percakapan dengan model make a match menggunakan media visual aids, membuat siswa merasa senang dan mempermudah dalam percakapan karena dibantu dengan benda nyata, kartu gambar dan kartu kata, 2 siswa atau 25% responden pada saat ditanya tentang penggunaan model pembelajaran make a match menjawab senang tetapi sambil tertawa-tawa seperti tidak yakin dengan jawabannya, dan 2 siswa atau 25% responden tidak memberikan jawaban, hanya senyum sambil menunduk .
Dari data jurnal menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris dalam percakapan dengan model make a match menggunakan media visual aids, disambut baik oleh 4 siswa atau 50% responden dengan menunjukan reaksi yang positif saat kegiatan pembelajaran tersebut, tetapi 2 siswa lainnya atau 25% responden menunjukkan reaksi positif bila distimulasi guru, dan 2 siswa atau 25% menunjukkan reaksi positif bila distimulasi dan dipandu guru, 4 responden (50%) menunjukkan kemampuan percakapan Bahasa Inggris yang baik, ada 2 siswa (25%) responden menunjukkan kemampuan yang cukup baik dan 2 siswa (25%) responden menunjukan kemampuan kurang baik.
Hasil Penelitian Siklus II
Hasil Tes
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui kemampuan percakapan Bahasa Inggris siswa : dari 8 siswa yang diteliti ada 6 siswa atau 75% responden termasuk dalam kategori baik dengan memperoleh skor masing-masing sebesar 8, kemudian 1 siswa atau 12,5% responden termasuk dalam kategori cukup dengan mendapatkan skor 6 dan 1 siswa atau 12,5 % responden termasuk dalam kategori kurang dengan memperoleh skor 2. Dengan menerapkan cara perhitungan seperti yang telah diuraikan pada bagian teknik analisis data, diperoleh data skor rata-rata tingkat kemampuan percakapan Bahasa Inggris dengan model pembelajaran make a match menggunakan media visual aids sebesar 7,0. Jika skor maksimal 8, maka skor rata-rata siswa sebesar 7,0 tersebut berarti ada pada kategori baik dan apabila dihitung dengan persentase sebesar 87,5 %. Hasil penelitian siklus II dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini :


Tabel 2
Skor Persentase
Tingkat Kemampuan percakapan Bahasa Inggris pada Siklus II

No Kategori Skor Responden % Keterangan
1. Baik 7,0 – 8,0 6 75 Skor rata-rata : 7,0
(Kategori Baik)
2. Cukup 4,0 – 6,9 1 12,5
3. Kurang 0,0 – 3,9 1 12,5
Jumlah 8 100


Hasil Nontes
Hasil observasi pada siklus II menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris dalam percakapan dengan model make a match menggunakan media visual aids mampu merangsang siswa untuk memiliki tingkat kemampuan yang baik, suasana kelas yang menyenangkan makin hidup dan kondusif, siswa melakukan sendiri semua kegiatan yang merangsang untuk percakapan Bahasa Inggris. Dalam pembelajaran ini siswa lebih aktif mengikuti kegiatan belajar selama proses pembelajaran berlangsung karena merasa sebagai bagian dari kesibukan bersama. Dari hasil observasi diketahui 6 siswa atau 75% responden aktif mengikuti kegiatan, 1 siswa (12,5%) masih harus dimotivasi untuk ikut aktif saat proses pembelajaran sedang 1 siswa lainnya (12,5%) masih harus dipandu guru, kedua siswa yang sering berbincang-bincang saat proses pembelajaran, pada siklus II tidak berbincang-bincang lagi saat kegiatan belajar berlangsung, dan siswa yang pada siklus I malu bila mendapat pasangan lawan jenis, pada siklus II sudah tidak malu-malu lagi meskipun mendapat pasangan lawan jenis. Dengan demikian dari 8 siswa yang diteliti, 6 siswa atau 75% responden pada siklus II ini dapat melakukan percakapan Bahasa Inggris dengan baik, 1 siswa atau 12,5 % responden dapat melakukan percakapan dengan dimotivasi serta 1 siswa atau 12,5% responden dapat melakukan percakapan dengan dipandu guru.
Hasil wawancara pada siklus II diperoleh informasi dari 8 siswa atau 100% responden menyatakan setuju, lebih mudah dan senang apabila dalam pembelajaran percakapan Bahasa Inggris dengan model make a match menggunakan media visual aids. Siswa yang pada siklus I tidak menjawab pertanyaan pada siklus II mau menjawab pertanyaan.
Dari data jurnal guru diperoleh gambaran bahwa 8 siswa atau 100% responden yang diteliti tingkah lakunya memberi reaksi positif terhadap pembelajaran Bahasa Inggris dalam percakapan dengan model make a match menggunakan media visual aids yang berupa benda nyata, kartu gambar maupun kartu kata dengan hasil yang baik.
Berdasarkan temuan penelitian di atas, diketahui bahwa hasil tes pada penelitian ini difokuskan pada aspek kemampuan percakapan Bahasa Inggris dari kemampuan siswa. Pada siklus I diketahui 4 siswa atau 50% responden mencapai kategori baik, sedangkan 3 siswa lainnya atau 37,5% responden mencapai kategori cukup baik tetapi masih ada 1 siswa atau 12,5% responden yang termasuk kategori kurang baik. Pada siklus II, 6 siswa atau 75% responden telah mencapai kategori baik, ada 1 siswa atau 12,5% responden termasuk dalam kategori cukup baik dan 1 siswa teermasuk kategori kurang baik.
Skor rata-rata pada siklus I sebesar 5,38 apabila dihitung dengan persentase sebesar 67,25% kemudian pada siklus II naik menjadi 7,0 atau bila dihitung dengan persentase sebesar 87,5%, jadi dari siklus I dibandingkan dengan siklus II ada kenaikan sebesar 1,62 dari 5,38 menjadi 7,0 dan ada peningkatan dalam kategori dari tingkat kemampuan cukup pada siklus I kemudian menjadi tingkat kemampuan baik pada siklus II. Dengan hitungan persentase dari siklus I ke siklus II ada kenaikan sebesar 20,25% dari 67,25% menjadi 87,5%.
Secara klasikal tingkat kemampuan siswa dalam percakapan Bahasa Inggris dengan menggunakan model pembelajaran make a match menggunakan media visual aids berupa benda nyata, kartu gambar dan kartu kata meningkat dari siklus I ke siklus II, ada kenaikan sebesar 20,25% yaitu dari 67,25% menjadi 87,5%.
Dari hasil observasi, wawancara dan jurnal diketahui bahwa pada siklus I, ada 4 siswa atau 50% responden aktif pada saat proses pembelajaran, senang melakukan kegiatan tanpa dipandu guru, 2 siswa atau 25% responden mau aktif apabila distimulasi oleh guru dan 2 siswa lainnya atau 50% responden agak pasif sehingga harus distimulasi dan dipandu guru, dan pada siklus II diketahui ada 6 siswa atau 75% aktif tanpa dipandu guru, ada 1 siswa atau 12,5% responden aktif tetapi harus dimotivasi/distimulasi oleh guru dan 1 siswa lagi atau 12,5% responden mau aktif bila dimotivasi dan dipandu oleh guru.
Pada siklus I semua siswa harus berdiri kemudian berlari untuk mengambil benda nyata yang disediakan guru lalu mencari pasangan untuk praktek percakapan, setelah itu siswa harus berlari mengambil kartu, baik kartu soal maupun kartu jawaban kemudian harus mencari pasangannya sesuai kartu gambar yang dipegang lalu harus berlari mencari benda nyata yang telah disiapkan guru sesuai kartu masing-masing. Setelah setiap pasangan memegang benda nyata, kartu gambar dan kartu kata maka saatnya mereka bergiliran untuk praktek percakapan. Pada siklus I masih ada 2 pasangan yang harus diingatkan bahwa sekarang sampai pada gilirannya, kemudian ada 1 pasangan yang masih harus dipandu. Hal tersebut pada siklus I diulang lagi pada siklus II, dan tinggal 1 pasangan yang harus dipandu untuk melakukan percakapan Bahasa Inggris. 2 siswa atau 25% responden yang pada siklus I diketahui sering berbincang-bincang (mengobrol) pada saat guru menerangkan kepada siswa lain, hal ini tidak tampak lagi pada siklus II dan 1 siswa yang pada siklus I malu (bersembunyi) dibawah meja bila mendapat pasangan lawan jenis sekarang tidak malu lagi bila mendapat pasangan lawan jenis.
Dari hasil wawancara pada siklus I, dengan model make a match ada 4 siswa atau 50% menyatakan senang, enak/mempermudah percakapan Bahasa Inggris, 2 siswa atau 25% responden menyatakan senang sambil tertawa dan 2 siswa (25%) responden tidak menjawab ketika ditanya hanya tersenyum sambil menunduk dan hal tersebut tidak terjadi lagi pada siklus II karena hasil wawancara siklus II, 8 siswa atau 100% responden menjawab senang dan lebih mudah serta lebih enak belajar Bahasa Inggris percakapan dengan model make a match menggunakan media visual aids bahkan sebagian siswa minta diulang lagi karena pembelajaran tersebut sangat menyenangkan.


Tabel 3
Data kemampuan siswa pada siklus I dan II

No Nama Siswa Kemampuan
Siklus I Siklus II
1. I P K 8 8
2. A R A 5 8
3. D E 5 8
4. R A U N 4 6
5. H S 7 8
6. N 7 8
7. I 7 8
8. I T 1 2
Jumah 43 56
Rata-rata 5,38 7,0
Kategori Cukup Baik


Data jurnal menunjukkan 4 siswa atau 50% responden memberikan reaksi yang positif, 2 siswa atau 25% responden mau aktif bila distimulasi guru dan 2 siswa atau 25% responden harus distimulasi dan dipandu guru dahulu baru mau memberikan reaksi yang positif pada siklus I, hal tersebut tidak terjadi lagi pada siklus II karena pada siklus II, 8 siswa atau 100% responden bertingkah laku memberikan reaksi yang positif.



KESIMPULAN


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran make a match menggunakan media visual aids berupa benda nyata, kartu gambar maupun kartu kata disamping dapat meningkatkan kemampuan percakapan Bahasa Inggris siswa kelas VII SMPLB B dan C di SLB B-C Hamong Putro Jombor Bendosari Sukoharjo tahun pelajaran 2008/2009, juga mampu membuat siswa aktif, merasa senang saat proses pembelajaran, serta dapat meningkatkan hasil belajar, yang dibuktikan dengan adanya peningkatan skor yang diperoleh secara individual.


DAFTAR PUSTAKA


Bobby de Porter, dkk. (2000). Quantum Teaching. Bandung: Kaifa
Depdiknas. (2006(.Standar Isi. Jakarta: Depdiknas
Glenn Doman, Janet Doman. (2006). .How To Teach Your Baby To Read (Bagaimana Mengajar Bayi Anda Membaca Sambil Bermain). Jakarta: Tigaraksa Satria
Isbani, R. dan Sardjono. (1989). Cipta Karya Audio Visual Aids. Surakarta: Uniersitas Sebelas Maret Press.
Soedjono AG. (1956). Pendahuluan didaktik dan metodik Umum. Jakarta: Harapan Masa
Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
LPMP. (2008). Model-Model Pembelajar¬an. Semarang: LPMP Jawa Tengah.
Jurnal Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus (JASI_AnakKu)
Jurusan Pendidikan Luar Biasa
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Jl. Dr. Setiabudhi 229, Bandung 40154, Indonesia
Telp: (022) 2013164 Pes. 4313
E-mail: jasianakku@gmail.com
Webmaster: Didi Tarsidi